Tampilkan postingan dengan label #ODOPfor99days. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #ODOPfor99days. Tampilkan semua postingan

Jumat, 27 Mei 2016

Catatan tentang kreatifitas

Tulisan ini merupakan catatan hasil diskusi di Rumah Belajar Cikutra IIP Bandung pada sabtu, 14 Mei 2016 bersama Bunda Sri Haryati dan diulang kembali pada kuliah whatsapp di grup WA IIP Bandung Utara.
Kreatifitas adalah kemampuan untuk memunculkan idea, barang, atau hal yang baru. Kreatifitas bukan dominasi orang yang bergelut di ranah seni. Bagi orang-orang yang bergelut di ranah sains juga social, kreatifitas berlaku jika yang bersangkutan dapat menciptakan idea tau hal baru dalam bidangnya. Produk dari sebuah kreatifitas bisa ide, cara yang tidak biasa, produk yang unik, produk atau cara yang efisien, dan berbeda. Dalam konteks fitah insane adalah bermanfaat untuk umat.

Dalam Al-Qur’an sudah dijelaskan bahwa manusia memiliki dimensi kreatif. Ada banyak ayat yang berbicara tentang hal itu. Salah satunya adalah QS al-Baqarah ayat 30-33. Ayat tersebut bercerita tentang penciptaan Adam sebagai manusia pertama yang berperan menjadi Khalifah fil ‘Ardl. Di ayat tersebut digambarkan tentang penciptaan makhluk yang bernama manusia yang diberi kelebihan akal, sehingga mampu menjawab dan menyebutkan nama-nama yang diminta Allah untuk disebutkan. 

Dalam beberapa literature mengatakan bahwa Allah membuat sesuatu dan mampu dilakukan hingga dari sinilah kita perlu meyakini bahwa setiap insane tanpa pengecualian sudah diciptakan Allah dengan DnA berkreasi dalam dirinya. Jadai tidak boleh lagi ada kata “aduh, saya ga kreatif”. Karena itu artinya kurang mensyukuri potensi yang Allah berikan.

Setelah kita “knowing” tentang kreatifitas, kini saatnya “being” dengan BERANI berpikir berbeda, bertindak berbeda, menempuh cara berbeda, dan yang terpenting memiliki manfaat “human and ecological value”.  Karena manusia adalah bagian dari ekosistem yang berkelanjutan dan berkesinambungan atau sustainability. Ayat-ayat Al-Qur’an banyak membahas tentang sustainability ini, lagi-lagi pemeran utamanya adalah manusia sebagai Khalifah fil –Ardl.

Selanjutnya bagaimana  menstimulasi kreatifitas dalam diri anak? Sebetulnya tidak ada formula ABCD atau tahapan 123 tentang menstimulasi kreatifitas. Yang terpenting adalah mau mencoba, berani gagal, tidak patak semangat, berani trial and error, do again, try again, find things differently, modified, innovate, dan have fun. Dan factor terpenting tumbuhnya kreatifitas adalah cinta, passion, minat, bakat fill follow.

Berkreasilah dengan cinta, karena dengan cinta, saat anak berkerasi hingga rumah berantakan serta merusak property, cintalah yang akan meredam kemarahan kita. Untuk memantik ide kreatifitas pada anak-anak kita bisa menggunakan “creative board” yang berlandaskan pada human basic needs, yaitu bergerak aktif, menyukai misteri, menyukai kejutan, serta menyukai keterlibatan.

Cerative board adalah papan aktifitas berisi ide-ide aktifitas yang akan dilakukan bersama anak, bentuknya pake amplop kreasi suka-suka. Setiap amplop diberi judul sesuai kebutuhan. Nah, di setiap amplop anak atau orangtua bisa menyisipkan surat berupa usulan/gagasan aktifitas seuai tema amplop. Buat anak yang sudah bisa menulis dan membaca, biarkan mereka melakukannya melalui tulisan sendiri. Kalau untuk anak yang belum bisa, bisa dikreasikan dengan gambar. Creative board ini bisa menjadi acuan kegiatan untuk orangtua dan anak. Apalagi saat orangtua kehabisan ide. Dan kita bisa memperbaharuinya setiap minggu.

Untuk usia 10 tahun ke atas kita menggunakan metode problem dan project based learning untuk memantik ide kreatifitasnya. Keduanya merupakan jembatan untuk mengasah kreatifitas anak dengan metode deep thinking. Perbedaannya terlihat pada output yang dihasilkan. Jika problem based learning outputnya adalah solusi sedangkan project based learning outputnya adalah produk.


Yang terpenting yang harus dilakukan orangtua adalah menstimulasi kepercayaan dirinya, memberikan tanggapan, selebrasi, terlibat dengan antusiasme, memuji dan mengkritik secara proporsional, meyakinkan dengan sepenuh hati betapa bangganya kita akan usaha dan kesungguhannya. Menjadi cheerleader saat anak-anak merasa “down” serta menyemangati kala mereka mulai kehilangan semangat belajar.

#ODOPfor99days
#day94

Jumat, 20 Mei 2016

Reading Aloud (Part 2)

Tantangan Reading Aloud
Tidak ada waktu khusus yang paling tepat untuk melakukan reading aloud. Momen yang paling nyaman adalah saat anak meminta. Dan itu bisa kapan saja, bahkan saat kita sibuk dengan pekerjaan kita. Bagi anak-anak yang telah merasakan keasyikan reading aloud, ini akan menjadi senjata untuk meraih perhatian dari kita terutama ketika kita sibuk dengan urusan kita dan anak cenderung terabaikan. Butuh stok kesabaran yang tinggi ketika kita menghadapi kondisi ini. Jika kondisinya memungkinkan, lebih baik dahulukan permintaan anak kita. Sehingga, perasaan terabaikan dapat diminimalisir. Perhatikan betul keterlibatan diri kita secara utuh dalam proses ini. Biasanya tidak butuh waktu lama, asal anak merasa bahwa dia juga mendapat perhatian yang sama, maka kita akan bisa kembali pada aktifitas kita dengan nyaman.
Apakah waktu sebelum tidur adalah waktu yang tepat untuk membacakan buku? Bisa, karena pada saat itu anak rileks dan akan lebih mudah memasukkan pesan-pesan yang ingin kita sampaikan melalui buku. Apalagi jika kemudian anak tidur dengan kondisi kepuasaan lahir dan batin, maka pesan yang kita sampaikan akan terbawa dalam memori jangka panjangnya dan menjadi referensi hingga dia tumbuh besar.
Berhati-hatilah saat anak mulai keranjingan dibacakan buku. Karena ini merupakan salah satu tantangan konsistensi bagi orangtuanya. Ketagihan dibacakan buku bukanlah hal yang buruk. Namun, akan menjadi tantangan tersendiri bagi konsistensi kita sebagai orangtua. Apalagi jika buku yang ingin dibacakan adalah buku yang sama. Anak-anak memiliki tingkat konsistensi yang lebih baik dibanding orangtuanya. Jangan heran, jika anak akan meminta dibacakan buku yang sama terus menerus. Dia tidak akan merasa bosan, bahkan mungkin kita yang akan jenuh dan merasa “eneg” dengan buku tersebut. Ini adalah salah satu tantangan terberat dalam proses reading aloud.  Jika kondisi ini terjadi, kita bisa mencoba mengalihkan perhatiannya pada buku lain secara perlahan tapi tidak memaksa. Ketertarikan anak terhadap satu buku tertentu merupakan hal yang menarik untuk digali. Menjadi PR bagi orangtuanya untuk menggali dan menemukan ketertarikan itu, sehingga mereka akan lebih mengenal anak-anaknya.
Adakah batas usia untuk anak dibacakan buku? Jawabannya Tidak. Reading aloud tetap dilakukan walau anak sudah bisa membaca sendiri atau bahkan sudah beranjak remaja. Banyak pengalaman beberapa orang teman yang anaknya berusia remaja, ikut nimbrung saat sang Ibu membacakan buku untuk adiknya yang masih balita. Bahkan tidak jarang dia ikut memilih buku mana yang akan dibacakan. Hal ini tidak masalah, karena kemungkinan ada kebutuhan lain yang mereka harapkan melalui proses reading aloud.

Pilihlah Buku Bergizi
Tidak ada ketentuan pasti tentang jenis buku yang harus dibacakan untuk anak. bisa buku apa saja, dan bisa disesuaikan dengan kebutuhan orangtua atau anak. M. Fauzil Adhim dalam bukunya “Membuat Anak Gila Membaca” menekankan pentingnya memilih “Buku Bergizi”. Salah satu cirinya adalah buku yang memiliki struktur penceritaan yang kuat. Karena akan memebrikan pengaruh yang luar biasa bagi hati, jiwa serta pikiran anak. Untuk menanamkan ketauhidan kita tidak perlu menunggu buku khusus anak yang bertemakan hal tersebut, walau kini memang banyak bertebaran. Yang terpenting buku tersebut memiliki pesan yang kuat tidak hanya luarnya tapi juga pesan di dalamnya.
Kemudian Beliau mencontohkan sebuah buku anak dengan judul “Si Kikir”. Tokoh dalam buku tersebut bernama Abidin yang diceritakan memiliki sifat kikir bahkan untuk dirinya sendiri. Abidin merupakan bahasa Arab yang memiliki arti “ahli ibadah”. Sungguh, bertolak belakang nama tokoh dengan isi cerita yang disampaikan. Hal ini sangat tidak baik bagi penanaman nilai-nilai dalam diri anak. Kondisi ini bagaikan sebuah proses demonology, yang salah satu bentuknya antara lain mendekatkan istilah sakral dengan keburukan. Sehingga menganggap bahwa konsep yang ada di balik istilah sakral tersebut merupakan akar dari keburukan.

Tanpa Target
Hal penting lain yang harus ditekankan dalam proses reading aloud adalah tidak ada target khusus. Walaupun, ada banyak stimulasi yang bisa kita lakukan melalui proses reading aloud namun semuanya bukanlah kejadian sulap “abracadabra”. Jika kita mulai mengharapkan target khusus, misalnya anak bisa membaca di usia sekian tahun, maka bersiaplah kecewa.  Anak kita bukan mesin yang bisa diprogram dengan sistematis. Yang terpenting dalam proses reading aloud adalah menciptakan kepuasaan dan kenyamanan baik dalam diri anak maupun orangtua. Harapan-harapan agar anak menjadi sesuatu sebaiknya kita gantungkan hanya kepada Allah dan bukan kepada anak.

Banyak anak yang akhirnya bisa dengan cepat memiliki keterampilan membaca melalui proses ini. Namun, tidak sedikit pula yang memerlukan waktu lebih lama. Setiap anak itu unik, mereka dilahirkan dengan berbagai keistimewaan tersendiri yang membutuhkan uluran cinta serta kasih saying dari orangtuanya agar dapat berkembang maksimal. Jadi, mari kita maksimalkan usaha dan perkuat do’a, sisanya biar Allah yang menentukan. Wallahu ‘alamu bishshawab.

#ODOPfor99days
#day92

Reading Aloud (Part 1)

Seperti yang telah disampaikan dalam tulisan terdahulu, reading aloud atau membacakan buku untuk anak merupakan salah satu metode stimulasi membaca pada anak yang berorientasi pada menumbuhkan kecintaan anak terhadap buku. Reading aloud tidak hanya efektif terhadap buku saja, bahkan juga terhadap Al-Qur’an. Banyak manfaat yang bisa kita petik dengan rutin membacakan al-Qur’an secara nyaring di depan anak sejak dini. Sebut saja Musa, sang Hafidz cilik Juara III Musabaqah Hifdzil Qur’an (MHQ) Internasional di Sharm el-Sheikh Mesir yang menurut pengakuan orangtuanya berawal dari rutinitas orangtuanya membacakan al-Qur’an di depan anak sejak masih dalam kandungan. Kegiatan tersebut awalnya dijadikan sarana stimulasi untuk anak mereka agar mencintai al-Qur’an. Ternyata, nilai plus lain yang mereka dapatkan adalah Musa bisa menjadi Hafidz di usia 7 tahun.

Stimulasi Indera Pendengaran, Bahasa, dan Kognisi
Reading aloud tidak hanya berfungsi memberikan stimulasi membaca saja. Lebih dari itu ada banyak manfaat lain yang bisa dipetik dari kegiatan ini. Bagi bayi-bayi yang masih berada dalam kandungan, proses reading aloud bisa menjadi sarana untuk memberikan stimulasi indera pendengaran. Apalagi jika berlanjut setelah bayi lahir. Indera pendengaran adalah indera pertama yang berfungsi pada bayi. Dengan stimulasi yang baik, optimalisasi perkembangan indera ini cenderung akan lebih baik. Terutama jika dilakukan oleh orang terdekat, yaitu ibu dan ayahnya. Telah banyak pengalaman membuktikan bahwa membuka komunikasi dengan anak sejak masih dalam kandungan memberikan manfaat besar bagi pertumbuhan dan perkembangan anak. Jika anda kehabisan ide mengajak bayi anda berkomunikasi, anda bisa mencobanya dengan reading aloud.
Stimulasi lain yang bisa dilakukan melalui metode reading aloud adalah stimulasi bahasa. Perkembangan bahasa terkait erat dengan perkembangan kognisi atau cara berpikir. Semakin baik bahasa anak, berarti semakin baik pula pola berpikirnya. Dengan reading aloud, kita bisa memberikan pengayaan kosakata serta istilah. Apalagi bahasa yang digunakan dalam buku cenderung mengikuti pola berpikir runut yang akan membantu anak membentuk pola berpikirnya.  Apakah ini berarti bahasa dalam buku tersebut harus sesuai dengan bahasa Ibu yang diberikan? Jawabannya Tidak. Kita bisa membacakan buku berbahasa apa saja kepada anak, selama kita bisa. Apalagi al-Qur’an yang berbahasa Arab memiliki kemukjizatan tersendiri sehingga bisa dibaca dan dihafal bahkan oleh orang yang tidak paham bahasa Arab.
Saat kami memutuskan menggunakan bahasa Ibu untuk anak-anak adalah bahasa Sunda, sempat terjadi keraguan untuk membacakan buku-buku anak yang berbahasa Indonesia. Namun, kami berpikir lanjutkan saja. Hasilnya, anak tidak mengalami kebingungan bahasa sedikit pun. Otak anak yang masih dalam masa perkembangan, mampu memilah ragam bahasa dengan baik. Bahkan, ini bisa menjadi stimulasi perkembangan bahasanya sehingga anak memiliki banyak referensi bahasa. Dengan otomatis otak anak akan memilah sendiri untuk menemukan kelompok bahasanya.

Sarana Penanaman Iman,Adab, dan Ibadah
Iman, Adab, dan Ibadah merupakan tiga materi dasar yang wajib diajarkan kepada Anak. Salah satu metode efektif yang bisa digunakan oleh orangtua untuk mengajarkan ketiga materi tersebut adalah melalui reading aloud. Terutama dengan membacakan sirah, baik sirah nabawiyah maupun shahabat serta salafus shalih. Nilai keteladanan yang terkandung dalam kisah-kisah tersebut dapat memberikan pengayaan besar terhadap keimanan anak. Apalagi dengan kondisi penurunan kualitas akhlaq pada masa sekarang ini. Salah satu penyebab utamanya adalah hilangnya keteladanan. Dengan rutin membacakan sirah, kita bisa menanamkan figur teladan yang bisa menjadi acuan anak dalam berperilaku.
Tentang ini, kami memiliki pengalaman tersendiri. Saat itu, anak kami yang berusia 7 tahun bermain seperti biasa dengan anak-anak tetangga. Terdengar anak-anak yang lain sedang ramai membicarakan dan menceritakan kehebatan seorang tokoh kartun superhero. Anak kami yang tidak pernah kami izinkan untuk menonton tayangan kartun tersebut akhirnya hanya menjadi pendengar dan tidak bisa menikmati keseruan obrolan. Tiba-tiba, dia pun menyela obrolan teman-temannya. Ternyata, dia bercerita tentang kehebatan Hamzah bin Abdul Muthalib serta Umar bin Khattab. Dia menceritakan bagaimana kaum Quraisy yang asalnya beringas menjadi ketakutan ketika mengetahui keislaman kedua tokoh ini. Awalnya, anak-anak yang lain cenderung tidak perduli dan kembali ke topic sang tokoh kartun. Akhirnya, anak kami tersebut membawa buku sirah tentang Perang Uhud yang biasa dibacakan untuknya. Anak yang lain pun mulai tertarik, dan akhirnya topic obrolan berganti menjadi pemaparan anak kami tentang peperangan-peperangan yang terjadi pada masa Rasulullah SAW.

Pengembangan Kecerdasan Emosi dan Kemandirian
Stimulasi lainnya yang bisa didapatkan dari metode ini adalah pengembangan kecerdasan emosi. Kisah-kisah yang termuat dalam buku memiliki banyak ragam emosi. Jika kita bisa membacakannya dengan intonasi dan mimik muka yang berbeda, maka anak akan belajar tentang jenis emosi tersebut serta cara pengungkapannya. Untuk itu, sebelum membacakan buku untuk anak, akan lebih baik kita membacanya terlebih dahulu serta memahami alur ceritanya. Untuk kisah-kisah inspiratif tekankan suara kita pada pesan inti yang ingin disampaikan. Bawa anak pada suasana yang terjadi dalam kisah tersebut. Kemampuan mengenal jenis emosi serta cara pengungkapannya, akan memudahkan anak untuk mengungkapkan emosinya serta memudahkan kita untuk membantu anak menangani emosi yang dia alami.
Kemampuan ini juga dapat menumbuhkan sikap empati, anak akan mampu memahami perasaan orang lain dan tidak mudah berburuk sangka. Apakah kemampuan ini bisa didapatkan dengan mudah? Jawabannya Tidak. Ini adalah tujuan jangka panjang yang kita harapkan dapat tumbuh dalam diri anak. Dalam proses stimulasi anak, kita jangan pernah terburu-buru ingin melihat hasilnya. Karena pendidikan itu proses yang panjang dan lama.
Reading aloud juga bisa menjadi sarana melatih kemandirian anak. Dengan banyaknya ragam buku anak hari ini, kita memiliki kesempatan untuk memilahnya sesuai dengan kebutuhan kita. Sesuaikan dengan target kemandirian yang sedang kita latihkan kepada anak-anak. Jika kita melakukannya melalui buku, anak biasanya akan merasa diarahkan dan bukan digurui.

Dalam menjalani stimulasi apa pun untuk anak-anak, hal penting yang harus kita perhatikan adalah menciptakan kedekatan. Jadikan kegiatan reading aloud sarana penting untuk menumbuhkan kedekatan serta menciptakan kehangatan antara orangtua dan anak (bonding). Jika bonding sudah tumbuh, maka stimulasi apa pun yang kita lakukan kepada anak akan diterima dengan baik. Kedekatan hubungan orangtua dan anak merupakan hal penting yang sangat diperhatikan oleh Rasulullah SAW. Untuk itu jadikan kegiatan reading aloud adalah kegiatan bersama yang rutin dilakukan. Bukan hanya ibu, tapi ayah pun penting ikut terlibat dalam proses ini. 

#ODOPfor99days
#day91

Rabu, 18 Mei 2016

Kejar Setoran

Demi mengejar setoran 99 tulisan, ada banyak cara yang saya lakukan, yang penting halal dan memungkinkan

1. Nulis curhatan walau dirasa gak penting

2. Nulis apa saja yang terbersit di pikiran, walau hanya dua atau tiga kalimat saja

3. Bongkar file lama.

Alhamdulillah di laptop saya banyak tersimpan tulisan-tulisan lama yang pernah saya buat untuk tugas kuliah, ngisi kegiatan ngaji, ngisi kegiatan pelatihan di Pemudi Persis, ngisi mading mesjid dan sebagainya. Banyak di antara tulisan itu yang saya tulis saat masih lajang..hee.. Maka demi memenuhi target 99 tulisan, mereka pun dipublish di blog dengan tagar ODOPfor99days

4. Re-post postingan lama

Hal lain yang saya lakukan adalah melakukan re-post tulisan-tulisan yang sudah ada di blog sebelumnya. Tulisan yang awalnya belum berlabel pun menjadi memiliki label ODOPfor99days

Inilah upaya yang saya lakukan. Bagaimana dengan kamu? hee...

#ODOPfor99days
#day98

Sekelumit Hikmah ODOP for 99Days

Beberapa minggu ini notif FB saya dipenuhi dengan pemberitahuan komentar di grup #ODOPfor99days. Notif ini terasa sangat mengganggu, terutama karena saya sendiri belum bisa setor tulisan kembali. Padahal kini sudah memasuki hari ke-99..huaahuaa... Sedih sekali karena tidak bisa memenuhi target untuk bisa menyetor satu tulisan setiap hari. Dan kondisi ini tidak hanya dialami saya sendiri. Ternyata banyak juga para ODOPers yang tidak bisa memenuhi target tersebut.

Ketua Kelas memang memberlakukan SP (semester pendek) agar mereka yang masih punya banyak hutang bisa menyusul ketertinggalannya. Bagi saya sendiri ini merupakan angin segar walau kekecewaan masih tersimpan di hati, karena tidak bisa konsisten mengikuti aturan yang telah ditetapkan sejak awal.

Saat membuka kelas ini, Ketua Kelas menyatakan bahwa latihan 99 hari ke depan adalah latihan konsistensi. Pada 33 hari pertama kita akan berlatih untuk menuangkan ide, memecahkan kebekuan, dan melenturkan otot-otot menulis. Pada 33 hari kedua, saat otot menulis mulai lentur, maka kita akan menemukan kenyamanan dalam menulis. Pada 33 hari terakhir, kita akan merasakan bahwa menulis sudah menjadi bagian dari diri kita. Sehingga menulis terasa mudah dan tidak lagi sulit.

99 hari adalah jangka waktu yang biasanya digunakan untuk membiasakan satu kebiasaan. Saat kita mampu menempuh 99 hari tanpa putus melakukan suatu kebiasaan. Maka, seyogyanya kebiasaan itu akan melekat dan menyatu dalam diri kita.

Itulah harapan-harapan yang ditabur saat grup ini pertama kali dibuat. Walau pada kenyataannya banyak yang tidak sesuai dengan harapan tersebut. Setidaknya saya merasakan banyak manfaat dari grup ini, yaitu :

1. Belajar Tuntas

Walau tertatih-tatih, tapi melalui grup ini saya diajak untuk menuntaskan semua tugas dengan berbagai cara yang memungkinkan. Hal ini yang belakangan tidak dapat saya lakukan dengan baik. Salah satu contohnya saat belajar membuat blog. Waktu itu, selama 30 hari kami diberi panduan serta turorial yang bisa diakses dengan mudah untuk pengembangan blog. Namun, kecenderungan untuk semangat di awal saja saya alami waktu itu. Sehingga, blog yang saya miliki sekarang setengah jadi. Lebih parahnya saya tidak tahu lagi bagaimana cara mengembangkan blog ini selanjutnya. Maka, dengan mengikuti grup ODOPfor99days setidaknya saya berusaha mengisi blog, walau tampilannya pas-pasan.

2. Melenturkan Target

Saat awal merintis blog, saya yang sebenarnya masih awam tentang dunia blog dan masih dasar dalam hal menulis, membuat target yang terlalu tinggi. Saat itu saya berkeinginan tulisan yang dituangkan dalam blog adalah artikel yang sarat makna dan bukan hanya curhatan belaka. Namun, melalui ODOPfor99days saya akhirnya melenturkan target tersebut. Karena demi memenuhi setoran apa pun yang ada dalam pikiran saya upayakan tertuang dalam tulisan

3. Melenturkan otot-otot menulis

Walau harapan untuk konsisten serta memiliki kebiasaan menulis yang baik tidak tercapai, setidaknya melalui latihan di ODOPfor99days, saya berlatih melenturkan otot-otot menulis. Kekakuan yang sering muncul dalam menuangkan kata, terlatih agar mengalir melalui ODOP ini. Walau kualitasnya masih banyak yang harus diperbaiki

4. Berkenalan dengan dunia blog

Awalnya blog ini dibuat hanya sekedar catatan keseharian dari Homeschooling yang kami jalani. Namun, setelah masuk grup ODOPfor99days, saya kemudian mengenal istilah blogger, serta mengenal banyak sisi dari kebermanfaatan blog, juga mengenal nama-nama blogger papan atas. Walau belum berani untuk terjun lebih jauh, karena terkait waktu yang dimiliki.

5. Menambah teman

Bergabung di grup ini tentu saja menambah friendlist baik di akun FB juga di WA. Mudah-mudahan bertambahnya teman merupakan sarana bertambah barokah baik ilmu juga usia. Aamiin

#ODOPfor99days
#day99

Kamis, 05 Mei 2016

Ibu Mertua, Ibu Keduaku

Saat banyak orang merasa tidak nyaman dengan kehadiran Ibu Mertua atau bahkan merasa takut saat harus hidup berdampingan dengan Ibu Mertua, alhamdulillah saya dijauhkan dari perasaan itu. Sebelum menikah, ketika calon suami mengatakan bahwa kita akan tinggal dekat dengan rumah Mertua, sempat terbersit pikiran tersebut. Namun, berkat keyakinan bahwa semua akan baik-baik saja semua ketakutan dan kekhawatiran itu pun sirna sesaat setelah menikah.

Sebagai seorang menantu, perasaan tidak nyaman juga pernah saya rasakan terhadap Mertua. Terutama saat Beliau "mengkritik" baik tentang perilaku anak-anak atau tentang penataan rumah. Bagaimana pun, Mertua adalah orang yang baru kita kenal. Namun, dengan "kekuasaannya", mereka bisa dengan bebas "merecoki" rumah tangga kita. Ada beberapa catatan yang ingin saya bagi terkait memperbaiki hubungan menantu-mertua.

1. Yakinkan bahwa mereka juga adalah orangtua kita. Setelah kita menikah, pahamkan dan camkan dalam diri kita bahwa keluarga kita menjadi bertambah. Bukan hanya menambah suami, tapi menambah orangtua juga saudara. Berikan mereka ruang yang sama dalam hati kita, dan berikan pula porsi yang sama dalam do'a kita. Karena ajaran Islam menyatakan bahwa Mertua berada pada posisi yang sama dengan orangtua kandung kita. Artinya berlaku pula hadits yang menyatakan bahwa "Ridlo Allah ada pada ridlo orangtua kita, dan murka Allah ada pada murka orangtua kita".

2. Ingatlah bahwa Mertua kita yang telah berjuang bertahun-tahun mendidik dan membesarkan pasangan kita. Jika hari ini kita mendapatkan suami yang rela berkorban untuk kebahagiaan kita, yang selalu setia membantu pekerjaan kita, yang selalu siap mendengarkan keluh kesah serta tangis kita, yang selalu sedia mengabulkan keinginan kita, ingatlah semua berkat jasa mertua kita. Bertahun-tahun sebelum kita mengenal suami kita, dia hidup dalam belaian dan dekapan orangtuanya yang hari ini menjadi mertua kita. Karena mertua kitalah, suami kita ada. Maka sepantasnya kita haturkan terima kasih kepada Mertua kita dengan memaafkan sedikit kebawelan mereka, serta memaklumi kerewelan mereka.

3. Jadilah teladan untuk anak kita. Bayangkan bahwa anak-anak kita beranjak dewasa dan memiliki pasangan. Sikap seperti apakah yang kita harapkan dari menantu kita nanti? Maka, jadilah teladan bagi anak-anak kita agar mereka mampu bersikap baik terhadap mertuanya kelak. Dan inilah yang sangat saya rasakan. Jika hari ini saya dapat meminimalisir bentrok antara mertua dan menantu, semata-mata karena teladan yang pernah diberikan oleh orangtua saya dulu. Barakallah fihim.

Yuk, menjadi menantu kesayangan mertua karena sikap sayang yang kita tunjukkan pada mereka.

#ODOPfor99days
#day86

Ardi Lulus S1

Alhamdulillah akhir April kemarin, Ardi genap berusia enam bulan. Dan tidak mengalami sperti ketiga kakaknya, karena dari awal asupan untuk Ardi murni ASI dari payudara ibunya. Artinya Ardi sudah lulus S1 ASI. Saatnya memberikan sertifikat ini untuk Ardi.


Setelah masuk usia 6 bulan, saatnya Ardi berkenalan dengan makanan lain sebagai penunjang ASI. Karena ASI untuk Ardi insya Allah akan terus diberikan hingga tuntas usia 2 tahun. Perjuangan ASI Eksklusif untuk Ardi bukan tanpa halangan. Namun berkat ilmu dan pengalaman, rintangan tersebut dapat dilalui dengan baik. Alhamdulillah semangat ngASI akan terus dipupuk hingga waktunya masa penyapihan. Semoga Allah berkenan meridloi semua upaya ini. Aamiin

#ODOPfor99days
#day90

Catatan Kecil Dari Diskusi Bunda Produktif di Grup WA IIP Bandung Utara

Hari ini diskusi harian di grup WA IIP Bandung Utara memasuki tema Bunda Produktif. Diskusi kali ini diawali dengan kutipan tulisan teh Shanty tentang obrolan para pengurus IIP bersama bu Septi baru-baru ini. Teh Putri sebagai pemandu diskusi menegaskan bahwa kita jangan dulu melangkah ke bunpro (bunda produktif) sebelum bunsay (bunda sayang) dan buncek (bunda cekatan) kuat.

Diskusi pun kemudian berlangsung diawali dengan mempertanyakan definisi earn dalam bunpro. Ternyata, earn dalam bunpro tidak selalu identik dengan uang/materi. Namun lebih menitikberatkan pada kepuasaan batin saat melakukan sesuatu sesuai dengan passion dan berdaya guna. Selanjutnya diskusi mengerucut pada pertanyaan bisakah bunsay, buncek, dan bunpro berjalan beriringan?

Menyimak diskusi-diskusi tersebut, saya pun tergelitik untuk ikut sharing pendapat. Berikut catatan yang saya berikan dalam diskusi tadi siang.

Tentang bunpro, awalnya saya juga berpikir bahwa bunpro harus selalu yang terkait dengan materi. Padahal saya termasuk orang yang tidak memaksakan diri jualan alias ga bisa.

Tapi setelah memahami bahwa produktifitas tdk hanya dinilai dengan materi. Akhirnya saya semakin mantap dengan apa yang saya jalani hari ini.

Sebagai orang yang senang berorganisasi dan berkomunitas, itulah passion yang saya tekuni selama hampir 20 tahun. Bermula dari organisasi remaja mesjid serta organisasi intra sekolah, berlanjut pada ormawa dan ormas Islam hingga berkomunitas dengan orang-orang yang memiliki tujuan yang sama.

Alhamdulillah semuanya memberikan kesempatan bagi saya untuk banyak memberi dan menerima. Kepuasaan saya dapatkan saat dapat menambah ilmu dan terus memperbaharui semangat serta saat bisa berbagi ilmu dan semangat dengan yang lain.

Saya pribadi, untuk urusan bunsay belum siap dikatakan lulus, namun terus berusaha untuk menguatkan. Klo masalah manajemen RT yang ada di buncek sampai hari ini saya masiiih banyak dibantu suami. Jika berbicara tuntas, sepertinya ketuntasan belajar kita akan tercapai saat ajal menjelang. Artinya, semuanya berproses. Jangan takut utk melangkah ke bunpro sambil tetap teguh memegang bunsay dan bunceknya.

#ODOPfor99days
#day89

Jumat, 29 April 2016

Dzikirku

Subhanallah………
Sucinya Engkau hai Maha Pengasih
tanpa cacat dan cela
walau hanya setitik…………
Kesempurnaan zat-Mu tercermin
dalam indah kreasi-Mu

Alhamdulillah……..
Kuhaturkan puji hanya untuk-Mu
Penggenggam keindahan, keelokan
kebahagiaan, kesenangan dan kesejahteraan
yang Kau pancarkan dalam
jutaan rahmat dan ni’mat-Mu

Allahu Akbar…….
Betapa kebesaran-Mu tak tertandingi
Kaulah penguasa, penakluk, pengatur
setiap titik kehidupan di dunia
Kecongkakan makhluk-Mu
sangatlah kerdil di hadapan-Mu

Laa Ilaaha illallah……….
Tak mungkin lagi kupungkiri
Tak mungkin lagi kuingkari
hanya Engkaulah Tuhanku
Tempat hati menambatkan cinta
Tempat kalbu menanamkan rindu
Karena tak ada lagi yang layak

mendapatkannya selain Engkau

#ODOPfor99days
#day77

Kamis, 28 April 2016

Mendidik Dengan Cinta

Masih dari acara Sejuta Cinta Untuk Indonesia. Kali ini kita akan mendapatkan sentilan ringan namun tajam dari seorang tokoh Parenting di Indonesia yaitu teh Kiki Barkiah. Tema yang beliau bawakan adalah mendidik dengan cinta.

Di awal pembicaraan, beliau memulai dengan pertanyaan yakin sayang & cinta sama anak ? Apa buktinya ? Selanjutnya beliau memaparkan. Kita sebagai orangtua pasti menginginkan kebaikan dunia & akhirat untuk anak, tapi kenyataannya perhatian orang tua lebih dominan pada perkara dunia.

Komunikasi yang dibangun dengan anak hanya seputar :
1. Sudah makan belum ?
2. Ada PR ngga di sekolah ?
3. Berapa nilai ulangan nya ?
4. Nilai raport & rangking berapa di sekolah ?

" Mereka mengetahui yang lahir ( tampak ) dari kehidupan dunia, sedangkan terhadap ( kehidupan ) akhirat mereka lalai "
( Q.S. Ar-Ruum : 7 )

▶Didiklah anak untuk mengenal Tuhan nya.

Pertanyaan nya :
♥ sejauh mana kita membangun komunikasi dengan anak tentang Allah ?
♥ adakah dialog tentang Allah di dalam rumah kita ?
Seperti dialog Luqman al-hakim dengan anaknya " wahai anakku ! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar ".
Atau dialog nabi yaqub yang bertanya pada keluarga nya " siapa yang akan kalian sembah sepeninggalku ? "

Jadikan penanaman AKIDAH sebagai isu besar dalam keluarga.
Jika perkara TAQWA tidak menjadi isu keluarga maka...

"  Teman-teman karib pada hari itu saling bermusuhan satu sama lain, kecuali mereka yang bertakwa "
( Q.S. Az-Zukhruf : 67 )

▶  Memperkenalkan Rasulullah kepada anak sebagai idola & panutannya sejak kecil.
Anak usia 2 tahun memang belum mengerti siapa itu Rasulullah, tapi jika kita sering menceritakan kemuliaan akhlak nya, nanti anak akan mengerti, sosok Rasulullah itu penting.

▶ Hadirkan sosok Rasulullah di rumah, dengan sering membacakan kisah nya, meneladani akhlaknya.

▶ menyiapkan anak menjadi MUKALLAF saat mencapai usia aqil baligh. Siap melaksanakan perintah & larangan Allah, tau hukum halal-haram, faham konsekwensi pahala & dosa.

HATI - HATI !!!
Banyak anak telah mencapai baligh ( matang fisik nya ), tapi tidak matang akal nya.
Anak laki2 fisiknya sudah bisa menghamili, anak perempuan fisiknya sudah bisa hamil...tapi akal mereka belum siap menjadi orang tua !  Kenapa ?
Karena orang tua tidak mempersiapkan anaknya menjadi mukallaf.

Teh Kiki Barkiah lanjut mengajak kita untuk membuktikan cinta kita kepada anak. Karena sayang & cinta itu perlu pembuktian.
Kalau hanya di bibir saja = GOMBAL :-D

Apa bukti cinta orang tua pada anak nya ?

1. MEMPERBAIKI AKHLAK
( sebanding dengan menanam aqidah )

" Hormatilah anak2mu dan perbaikilah akhlak mereka "
( H.R. Ibnu Majah )

Upaya memperbaiki akhlak :
• hormatilah hak mereka
• meluruskan akhlak dengan penuh kesabaran & kelembutan ( Q.S Fushshilat 34-35 )
• Hadirkan sosok Rasulullah sebagai teladan akhlak
• Teladani Rasulullah dalam mendidik anak
• Perbanyak memberi teladan.
1 contoh nyata dari orang tua akan lebih efektif daripada ribuan kata2
• Lembut & tidak kasar
• Tenang & tidak terburu-buru
• Tahan marah
• memperbanyak maaf & tidak memarahi ( Q.S. At-Taghobun 14-15 )
• Marah karena Allah
• Menguasai diri saat marah
• Memilih yang termudah selama tidak termasuk dosa
• Toleransi
• Seimbang & proporsional
• Berprasangka baik pada Allah
• Bersedekah
• Bersabar
• Tegakkan pendidikan dengan hukuman jika perlu, tapi lakukan sesuai batasan Islam
• Doakan anak kita dengan sungguh2

2. MEMPERSIAPKAN MASA DEPAN

" Dan hendaklah takut ( kepada Allah ) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap ( kesejahteraan ) nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar "
( Q.S. An-Nisa : 9 )

Berikan anak informasi, Life skill, Kemandirian. Tidak melulu soal angka2 nilai raport.

KESIMPULAN :
Apa saja yang menjaga mereka ( anak2 ) dari siksa api neraka, maka itulah BUKTI CINTA yang sesungguhnya.

" Wahai orang-orang yang beriman ! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu ; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan "
( Q.S. At-Tahrim : 6 )

Semua orang tua bisa berkata
" I 💗 you, Anakku "
Mari BUKTIKAN !!!

Sumber: catatan salah seorang peserta Sejuta Cinta Untuk Indonesia

#ODOPfor99days
#day84

Menebar Manfaat Untuk Umat

Ahad, 24 April yang lalu saya mengikuti sebuah acara yang bertajuk "Sejuta Cinta Untuk Indonesia". Tampil dalam pembukaan acara tersebut, Ira dan teman-temannya membacakan Surat al-Mulk. Acara ini diselenggarakan oleh Wahdah Islamiyah, sebuah ormas Islam yang bergerak dalam Dakwah, Tarbiyah, dan Sosial. Pembicara yang dihadirkan dalam acara ini adalah teh Kiki Barkiah, seorang praktisi Homeschooling sekaligus pembicara seminar Parenting yang sedang naik daun. Pembicara lainnya adalah Ustdz. Ariyanti Rasmin yang merupakan Ketua Muslimah Wahdah Islamiyah tingkat Jawa Barat. Acara ini juga menghadirkan Ibu Netty, istri Gubernur Jawa Barat sebagai keynote speech.

Di tengah kesibukan sebagai istri Gubernur dan tugas utamanya sebagai istri dan Ibu dari anak-anaknya, Ibu Netty akhirnya menyempatkan diri untuk hadir dalam acara ini. Beliau datang lebih lambat dari jadwal yang sudah ditentukan. Saat itu acara diskusi sudah dimulai oleh pemaparan materi teh Kiki Barkiah. Karena kehadiran Ibu Netty, teh Kiki Barkiah pun menghentikan dulu materinya untuk memberi kesempatan kepada Ibu Netty menyampaikan speech-nya.

Tidak banyak yang saya ingat dari pemaparan Ibu Netty. Karena beliau juga memang tidak panjang-panjang berbicara. Hanya sekitar 15 menit saja. Namun, ada kesan mendalam dari pemaparan pendek Beliau yang membekas di hati saya.

Sebagai seorang aktifis advokasi ibu dan anak, Ibu Netty banyak memaparkan mengenai kasus-kasus mengenai "kekerasan" terhadap Ibu dan Anak yang kini marak terjadi. Beliau juga banyak memaparkan fenomena sosial yang buruk yang banyak terjadi di masyarakat khususnya Jawa Barat. sebagai provinsi dengan jumlah pendudukan terbesar di Indonesia. Berbagai fenomena yang terjadi di Jawa Barat secara signifikan akan ikut mempengaruh Indonesia secara keseluruhan. Karena menurut Ibu Netty, 20% penduduk Indonesia tinggal di Jawa Barat.

Diantara fenomena yang dipaparkan Bu Netty adalah kasus pelacuran yang banyak dilakukan anak-anak gadis yang berusia belia. Seolah sedang menjadi tren, mereka yang rata-rata baru menginjak SMP, di malam hari banyak yang berprofesi sebagai PSK. Bayaran mereka beragam, mulai dari 150 ribu hingga 250 ribu tergantung penampilan fisik mereka. Semakin cantik penampilannya, maka semakin mahal bayarannya. Mereka beroperasi di kota Bandung dan sekitarnya. Banyak diantara pelanggan mereka adalah turis asing. Karena Bandung kini menjadi salah satu tujuan wisata turis mancanegara. Katanya, dalam semalam jika sedang sepi mereka hanya melayani 4-5 laki-laki, namun jika sedang ramai bisa sampai 11 laki-laki dalam semalam. Na'udzubillahi min Dzalik. Pendapatan mereka kemudian dibagi 40:60 dengan 'Mami" sang Mucikari. Silahkan hitung berapa pendapatan mereka dalam semalam.

Dalam kasus di atas, anak-anak gadis tersebut melakukan perbuatan itu dengan sukarela dan tidak ada paksaan. Inilah salah satu kesulitan para aktifis sosial yang ingin mengadvokasi mereka. Karena banyak di antara mereka sudah merasa nyaman dengan aktifitasnya saat ini. Kasus lain masih terjadi di Jawa Barat, ada seorang pria yang menikahi janda beranak gadis. Setelah menikahi janda tersebut, dia kemudian menikahi anak tirinya. Ironisnya pernikahan itu disetujui oleh sang Ibu yang merupakan istri pertama, bahkan disahkan oleh Kantor Urusan Agama. Innalillahi wa Inna Ilaihi roji'un. Benar-benar sebuah fakta mencengangkan, yang membuat kita terus mengurut dada.

Fenomena yang dipaparkan oleh Bu Netty hanyalah sebagian kecil kondisi nyata yang terjadi di lingkungan sekitar kita. Kondisi-kondisi tersebut tidak menutup kemungkinan terjadi pada tetangga, saudara, bahkan mungkin keluarga kita sendiri. Walau itu bukanlah hal yang kita harapkan. Namun, kita harus senantiasa waspada terhadap berbagai kemungkinan. Saatnya kita betul-betul membentengi keluarga kita dengan bangunan yang kuat.

Hal yang paling berkesan bagi saya kemudian adalah penekanan Bu Netty akan pentingnya peran muslimah di masyarakat. Beliau mengungkapkan, kita tidak boleh hanya merasa cukup dengan membentengi keluarga kita saja. Kita tidak boleh merasa tenang, hanya karena melihat anak-anak kita memiliki prestasi yang baik di sekolah, mau menutup aurat, shalatnya baik, hapalannya al-Qur'annya bagus. Itu saja TIDAK CUKUP untuk membuat kita tenang. Bu Netty kemudian membacakan sebuah hadits populer yang artinya,

"Orang yang paling baik di antara kalian adalah orang yang paling bermanfaat bagi umat manusia"
Bu Netty mengajak seluruh muslimah yang waktu itu hadir di Aula Dayang Sumbi, ITENAS Bandung untuk sama-sama menyingsingkan lengan baju berbuat untuk masyarakat dan bermanfaat untuk umat. Mari kita evaluasi sudah seberapa besar peran kita di masyarakat. Jangan sampai kita terlena dengan diri kita sendiri sampai melupakan nasib tetangga kita. Jadilah muslimah yang bermanfaat untuk umat sebagai bukti sejuta cinta kita untuk Indonesia.

#ODOPfor99days
#day83

Senin, 25 April 2016

Tahapan Decoupage

Ingin tahu bagaimana tahapan pembuatan karya decoupage Ira? Saya coba jelaskan disini ya... Namun mohon maaf karena file foto-fotonya terhapus semua tanpa sengaja..hiks. Saya harap walau tanpa foto, tapi bisa menggambarkan prosesnya.

Bahan-bahan yang digunakan :
1. Talenan kecil yang sudah diamplas
2. Kuas akrilik
3. Cat akrilik
4. Lem kayu yang dicampur air dengan perbandingan 50:50
5. Tisu motif
6. Amplas
7. Hairdryer

Langkah pembuatan :
  1. Ira memulai dengan memilih tisu bermotif. Ada banyak motif yang ditawarkan membuat Ira tergiur dengan semuanya. Namun, bagaimanapun juga pilihan tetap harus dilakukan. Akhirnya Ira memilih tisu dengan gambar bajak laut.
  2. Setelah memilih tisu, Ira diarahkan untuk berimajinasi menentukan akan seperti apa penampakan talenan nantinya. Apakah gambar akan ditempel utuh atau dilakukan kolase. semua tergantung kreasi masing-masing. Adapun Ira memilih untuk menempelkan utuh gambar yang ada di tisu. Kebetulan tisu yang Ira pilih memuat empat gambar kembar. Sehingga, Ira cukup memilih salah satu sisinya saja. Dan masih tersisa tiga sisi lainnya yang bisa digunakan untuk karya yang lain.
  3. Selanjutnya Ira diajak untuk menentukan warna dasar talenan disesuaikan dengan motif yang dia pilih. Karna motif dasar tisu itu biru muda, maka Ira pun memilih warna dasar biru muda.
  4. Pengecatan dasar talenan dilakukan menggunakan cat akrilik. Ira mencampur warna biru dengan warna putih hingga didapatkan warna biru muda yang sesuai. Selanjutnya Ira mengecat seluruh dasar talenan beserta pinggirannya.
  5. Setelah cat kering dibantu dengan hairdryer. Ira melanjutkan langkah berikutnya. Yaitu membubuhkan lem pada bidang yang akan ditempeli tisu dengan rata. 
  6. Setelah lem rata, Ira bersiap menempelkan tisu. Langkah ini harus dilakukan dengan sangat hati-hati agar tidak ada kerutan dan tisu dapat menempel dengan sempurna. Selanjutnya tisu dirapihkan dengan cara menempelkan plastik datar di atas tisu, kemudian dirapihkan menggunakan bantuan kartu.
  7. Langkah selanjutnya, permukaan tisu yang sudah menempel kembali diberi lem untuk memastikan tisu menempel sempurna. Setelah lem dikeringkan dengan bantuan hairdryer, barulah dilakukan tahap akhir. Sebelumnya pinggiran talenan yang terdapat tisu dirapihkan dengan menggunakan amplas.
  8. Tahap akhir adalah tahap memberikan vernis yang dilakukan paling bagus sampai tiga atau empat kali. Pertama, vernis dibubuhkan di atas gambar dengan menggunakan kuas lalu dikeringkan, idealnya setelah itu permukaan gambar diamplas dengan amplas lembut untuk membersihkan noda, kemudian diberi vernis lagi dan dilakukan kembali langkah yang sama hingga 3-4 kali. Namun, karena sudah cape Ira hanya melakukan tahap ini dua kali tanpa menggunakan amplas karena memang tidak tersedia.
Akhirnya, jadilah hasil karya Ira seperti yang terlihat dalam gambar ini

#ODOPfor99days
#day82

Belajar Decoupage

Decoupage (baca: dekopas) menurut wikihow berasal dari bahasa Perancis, decouper yang artinya memotong. Decoupage adalah nama sebuah kerajinan yang menggunakan teknik dasar menggunting dan menempel. 

Maka, jika anda bisa menggunting dan menempel. Dapat dipastikan anda pun bisa membuat kerajinan decoupage. Hal ini diutarakan teh Yuyun Wibawa, fasilitator di Kelas Camperenik. Sebuah kelas yang dikelola oleh teh Yuyun pribadi yang menyediakan pelatihan gratis decoupage mulai tingkat dasar hingga mahir.

Alhamdulillah, sabtu tanggal 23 April 2016 kemarin, RB Craft IIP Bandung berhasil mengundang teh Yuyun dalam kopdar perdana untuk memberikan pelatihan decoupage. Peserta dibatasi hanya 10 orang agar bisa tertangani dengan baik. Karena kegiatan ini diselenggarakan di Madrasah An-Nuur, maka saya pun ikut mendaftar.

Namun, dengan kondisi bayi Ardi yang sudah mulai aktif, saya kesulitan untuk ikut terlibat langsung. Jadinya teh Ira yang langsung terjun ikut terlibat dalam pelatihan. Kebetulan sebelumnya Ira sangat tertarik dengan kerajinan ini setelah melihat karya-karya teh Yuyun di FBnya ummi.

Meski terlihat malu-malu dan minta untuk terus ditemani ummi, alhamdulillah Ira bisa menyelesaikan semua tahap pembuatan decoupage dengan baik. Dia terlihat lincah dan cekatan mengikuti arahan teh Yuyun. Sehingga dapat menyelesaikan karyanya tanpa banyak merasa kesulitan.

Peserta lain yang semuanya Ibu-ibu merasa takjub melihat kelincahan Ira. Hari itu Ira menjadi peserta termuda yang karyanya tidak kalah dengan peserta lainnya. Semoga karya ini menjadi pemicu bagi Ira untuk terus menghasilkan karya yang bermanfaat bagi sesama. Aamiin
#ODOPfor99days
#day81

Belajar Dengan Flashcard

Apa itu Flashcard?
Flashcard atau disebut juga education card adalah kartu-kartu bergambar yang disertai kata-kata, atau bisa juga kartu-kartu yang hanya berisi kata-kata saja tanpa gambar. Flashcard biasa digunakan sebagai alat bantu belajar bagi anak-anak.

Sejarah Flashcard
Flashcard pertama kali diperkenalkan oleh Glenn Doman, seorang dokter ahli bedah otak dari Philadelphia, Pennsylvania. Glenn Doman lulus dari Universitas Pennsylvania tahun 1940 jurusan physical therapy. Pada awalnya metode ini digunakan untuk memberikan pengajaran membaca (maupun matematik) kepada anak-anak yang mengalami cedera otak. Dengan metode ini ternyata anak-anak tersebut bahkan menunjukkan kemampuan lebih dibandingkan anak-anak normal. Glenn Doman bersama putrinya Jannet Doman akhirnya mendedikasikan waktunya untuk membantu para balita untuk mencerdaskan otak sejak dini.

Tujuan Flashcard
Flashcard adalah kartu belajar yang efektif untuk membantu anak belajar mengingat dan menghafal. Kegiatan mengingat dan menghafal adalah kegiatan yang mengaktifkan otak kiri, dengan metode flashcard diharapkan agar aktivasi otak kanan pun dapat tercapai.

Penggunaan Flashcard
  1. Repetition. Mengucapkan dan mengulangi huruf atau kata pada flashcard dengan lantang dan jelas, tidak terlalu lembut. Dan lebih baik lagi bila susunan kartu yang guru kenalkan benar-benar diingat atau dibagian  belakang kartu bisa diberi nomor sehingga pengulangannya sempurna, tidak acak. Maksud repetition adalah, misalnya hari ini mengenalkan “grapes – banana – peas – apple” maka next session yang di ulang juga susunanannya diusahakan sama yaitu “grapes – banana – peas – apple” dan seterusnya. Setelah lebih dari 3 hari, untuk anak yg sudah bisa bicara ujung-ujung belakang kata, tanya ke mereka, ini apa ya? Dan setelah sudah “khatam” baru boleh diacak.
  2. Gunakan target. Jangan kenalkan macam flashcard secara bersamaan. Contoh: 1 minggu kenalkan dan tamatkan seri kartu A, minggu depan tamat kartu B dan selanjutnya. Siapkan waktu 20-40 menit per sesi.
  3. Menciptakan suasana bermain namun serius dan tetap harus menyenangkan.
  4. mematikan televisi, silent hp, bila perlu tutup pintu kelas saat kegiatan ini dilakukan, supaya anak fokus.
  5. Melihat kesiapan anak untuk belajar. Apakah mereka siap untuk belajar atau tidak. Bila anak rewel, mengantuk, lapar, maka sesi belajar akan sangat tidak menyenangkan.

Yang terpenting dalam penggunaan flashcard adalah ciptakan suasana bermain dan menyenangkan. Sikap mental bermain akan mengendurkan ekspektasi orangtua kepada anak. Ekspektasi itu adalah harapan orangtua agar anak segera berprestasi dan menguasai sebuah keterampilan tertentu setelah melakukan kegiatan. Ekspektasi semacam ini yang akan menjadi pengurang besar bagi aspek fun (kesenangan) dalam belajar. Sehingga orangtua cenderung tidak sabar dan memaksakan kepada anak.

#ODOPfor99days
#day71

Kamis, 07 April 2016

Belajar Desain

Kami termasuk keluarga yang membiarkan anak-anak akrab dengan komputer sejak kecil. Walau demikian, kami tetap mengawal dan membatasi waktu mereka berinteraksi dengan komputer. Kalaupun ada game interaktif, semuanya diupayakan yang bersifat edukatif.

Salah satu program favorit anak-anak saat membuka komputer adalah Microsoft Powerpoint. Karena disana tersedia lanskip yang berwarna dan tool yang mudah mereka gunakan. Sebab lain karena program ini merupakan salah satu program yang sering kami gunakan untuk membuat bahan presentasi selain Microsoft Word untuk mengetik.

Kesenangan mereka menggunakan Ms. Powerpoint membuat mereka terkadang lebih lihai dibandingkan kami. Bahkan, mereka sering mendesain sesuatu melalui program ini. Biasanya desain mereka berbentuk poster.

Maka, saat melakukan hitung mundur Ramadhan lewar timeline FB, saya pun terinspirasi oleh kebiasaan anak-anak menggunakan Powerpoint. Mulai H-98 hingga hari ini H-60, desain poster yang dipajang di timeline FB menggunakan program Powerpoint. Hingga kemudian salah seorang teman menyarankan untuk menggunakan program desain online bertajuk canva.

Program canva ternyata memang mudah digunakan karena ditujukan untuk para amatir yang ingin membuat desain. Fiturnya berbayar, namun banyak juga fitur FREE yang disediakan program ini. Desain yang disediakan juga beragam. Bisa digunakan untuk profil di Media Sosial, Cover di FB, untuk blog dan sebagainya.

Template yang disediakan sangat banyak sehingga memberikan kesempatan kepada kita untuk memilih sesuai keinginan. Setelah kita memilih template yang diinginkan, dengan mudah kita juga dapat mengedit tulisan bahkan gambar yang ada di sana. Saking mudahnya Naura yang baru berumur 5 tahun pun dapat dengan mudah mengopeerasikannya. Gambar-gambar berikut adalah hasil karya Naura melalui program ini.

#ODOPfor99days
#day69

Rabu, 06 April 2016

Karya Ibu-ibu

Jika anda melihat foto profil saya di FB sering berubah-ubah, itu merupakan upaya hitung mundur Ramadhan yang dilakukan oleh kami di Pemudi Persis. Tentang ini sudah pernah saya ceritakan.

Lantas siapakah yang membuat gambar-gambar itu? Mungkin, jika melihat gambar-gambar tersebut anda tidak akan lantas terkagum-kagum, karena kualitasnya sangatlah biasa bahkan mungkin sangat sederhana. Namun, jika anda tahu siapa dan bagaimana perjuangan di balik pembuatan gambar tersebut, barulah anda akan tersenyum bangga.

Gambar-gambar itu dibuat bukan oleh seorang ahli desain atau orang yang paham tentang desain grafis. Gambar-gambar itu dibuat oleh kami para tasykil PP Pemudi Persis yang berstatus Ibu Rumah Tangga. Status itu ditambah dengan latar belakang kami yang beragam. Walau kebanyakan pernah mengenyam pendidikan tinggi, tapi kami tidak pernah berurusan dengan komputer kecuali sekedar mengetik menuliskan tugas saat kuliah dulu.

Pengetahuan kami tentang desain juga tentang komputer sangatlah awam. Namun, karena tekad ingin berdakwah lewat media sosial membuat kami belajar untuk membuka diri dari dunia gaptek. Hasilnya memang belum dikatakan fantastis. Namun, setidaknya walaupun dengan kesibukan seorang "emak rempong", keinginan kami untuk belajar tak pernah lekang.

Tanpa tutorial dari seorang ahli, kami berusaha meraba-raba sendiri. Melalui program Microsoft Powerpointlah gambar-gambar itu dibuat. Sebuah program yang cukup familiar bagi kami dibandingkan photoshop maupun corel draw. Maka taraaa...itulah hasilnya...hihi... Walau bagaimanapun semuanya adalah hasil sebuah perjuangan belajar dari kami, para Ibu yang selalu ingin tahu...cmiww

#ODOPfor99days
#day68

Selasa, 05 April 2016

Bumbu Dasar

Sudah lama saya mendengar tentang bumbu dasar. Namun, baru mempraktekkannya setahun yang lalu. Saat itu menjelang bulan Ramadhan. Seperti yang dikatakan Nurlienda seorang ahli gizi, bahwa bumbu dasar merupakan senjata ampuh di dapur yang dapat mempermudah pekerjaan menyusun menu.

Alhamdulillah itu pula yang saya rasakan saat menggunakan bumbu dasar. Waktu memasak terasa lebih cepat karena bumbu sudah tersedia. Apalagi saat makan sahur, saya jadi memiliki waktu lebih untuk membangunkan anak-anak dengan tenang. Kelebihan lain yang saya rasakan dengan membuat bumbu dasar di rumah, kita bisa menentukan sendiri racikan bumbu sesuai selera dan yang pasti tanpa MSG dan bahan pengawet.

Bumbu dasar yang saya buat di rumah disimpan dalam toples tertutup dan disimpan di dalam kulkas. Alhamdulillah tahan selama tiga bulan tanpa berubah bau dan rasanya.
Ada empat jenis bumbu dasar yany dibedakan berdasarkan warnanya, yaitu bumbu putih, bumbu kuning, bumbu merah dan bumbu oranye. Berikut cara membuat bumbu dasar yang saya kutip dari berbagai sumber di internet.

Bumbu Putih

Bahan-bahan:
- 250 gram bawang merah,
- 100 gram bawang putih,
- 50 gram kemiri,
- 3 sentimeter lengkuas di rajang halus,
- 2 sedok teh garam,
- 2 sendok teh gula pasir,
- 100ml minyak goreng (untuk memblender),
- 100 ml minyak goreng untuk menumis.

Bumbu Kuning

- 100 gram kemiri,
- 150 gram bawah putih,
 -500 gram bawah merah,
- 25 gram kunyit,
- 20 gram jahe,
- 20 gram lengkuas,
- 1 sendok makan lada bubuk,
- 2,5 sendok teh garam,
- 2 sendok teh gula pasir, 
- 150 ml minyak goreng untuk memblender,
- 50 ml minyak untuk menumis.

Bumbu Merah

- 400 gram cabai merah (buang bijinya),
- 100 gram bawang merah, 
- 50 gram bawang putih, 
-100 gram tomat,
- 20 gram terasi,
- 100 gram gula pasir,
- 15 gram garam,
- 100 ml minyak goreng (saat memblender), dan 
-100 ml minyak goreng (saat menumis).

Bumbu Oranye

- 300 gram cabai merah buang bijinya,
- 1 sendok teh jinten,
- 1 sendok teh adas manis bubuk, (saya skip)
- 2,5 sendok makan ketumbar bubuk,
- 100 gram kemiri,
- 150 gram bawang putih, 
-500 gram bawang merah, 
-25 gram kunyit,
- 20 gram jahe,
- 20 gram lengkuas,
- 2 sendok teh lada bubuk, 
-3,5 gram garam,
- 2 sendok teh gula,
-150 ml minyak goreng untuk memblender, dan
- 50 ml minyak untuk menumis.

Bumbu putih biasanya saya gunakan untuk semur, tumisan serta oseng-oseng. Sedangkan bumbu kuning biasa saya gunakan untuk ayam dan ikan goreng, acar kuning, pepes, dan lainnya. Bumbu merah digunakan untuk nasi goreng, serta sambal goreng. Sedangkan bumbu oranye digunakan untuk kari, gule dan sejenisnya. Untuk keluarga kecil saya, biasanya hanya setengah dari resep di atas yang saya gunakan, kecuali untuk bumbu kuning. Karena, kebanyakan masakan kami menggunakan bumbu yang satu ini.

Cara membuat bumbu dasar adalah :

1. Haluskan semua bahan, kecuali gula dan minyak untuk menumis, hingga halus benar.
2. Panaskan minyak untuk menumis, serta tumis bumbu sampai harum dan matang. Masukan gula, tumis sebentar, angkat dan dinginkan.
3. Masukkan ke dalam toples, siap digunakan.

Jika ingin memasak, ambillah sedikit dan masukan bumbu tambahan lain, seperti rempah2 daun. daun salam. daun jeruk. sereh. daun kunyit. dll.

Selamat mencoba

#ODOPfor99days
#day62

Para Pendukung ODOP

Alhamdulillah ODOP kini memasuki etape terakhir. Walau jatuh bangun, saya bersyukur masih dapat bertahan di sini. Semuanya berkat dukungan berbagai pihak. Terutama cheerleader ODOP sekaligus Ketua Kelas kami, teh Shanty yang selalu menyemangati kami untuk tetap berada di sini.

Pernah terlintas keinginan untuk berhenti mengikuti tantangan ini. Namun, teringat kata-kata teh Shanty, kalau kita menyerah sekarang akan lebih sulit lagi nanti untuk memulai kembali. Karena bayangan bahwa kita pernah gagal akan terus menghantui. Meyakini kata-kata ini, maka walau tersendat-sendat saya terus berusaha untuk hadir di ODOP.

Kemudahan yang dihadirkan di grup ini, juga merupakan hal yang membuat saya bertahan di ODOP. Tidak ada standar penulisan baku. Karena tujuan grup ini adalah membiasakan menulis. Isi tulisan boleh apa saja dan boleh berapa pun panjangnya. Bahkan, walau hanya lima kalimat pendek saja.

Pendukung lainnya bagi kelancaran program ODOP ini di antaranya:

1. Wifi dan sinyalnya yang stabil. Kalau sinyal lagi ngedrop, semangat pun turun.

2. Aplikasi blogger di hape. Dengan aplikasi ini, saya tidak perlu membuka dulu laptop untuk menulis. Sehingga bisa dilakukan sambil ngASI. Tapi jika kondisi hape lagi nge-hang atau ada beberapa data yang harus dicari di laptop, tetap saja aplikasi ini tidak membantu.

3. Anak-anak saat kondisinya mendukung. Kondisi anak-anak yang mendukung itu adalah saat mereka sehat, punya kegiatan mandiri, serta dengan sukarela membantu pekerjaan rumah sang ibu.

4. Sang bayi saat tidurnya nyenyak dan anteng main sama kakak-kakaknya.

Walau berbagai kondisi di atas tidak selalu stabil. Tapi semangat ber-ODOP selalu diupayakan stabil. Sehingga walau masih banyak bolong, semangat menulis tetap membara...hee...

#ODOPfor99days
#day67

Manajemen Gizi Keluarga Jelang Ramadhan

Tulisan ini merupakan sedikit cuplikan dari materi "Manajemen Gizi Keluarga Jelang Ramadhan" yang disampaikan sahabat ODOP, Nurlienda Hasanah dalam sebuah diskusi publik bertajuk judul yang sama. Diskusi tersebut telah dilaksanakan pada hari ahad, 27 Maret 2016 yang lalu di Mesjid An-Nuur. Kegiatan ini merupakan acara penyerta Musyawarah Cabang IX Pemudi Persis Cibeunying Kidul. Mengundang ibu-ibu sekitar serta muslimah secara umumnya, kegiatan ini dilakukan bersamaan dengan kegiatan Pemeriksaan Kesehatan Gratis serta Bazaar Amal. Peserta kegiatan cukup banyak mencapai 100 orang ibu-ibu.

Materi ini diawali dengan penjelasan tentang gizi secara umum. Lienda -panggilan akrab Nurlienda- menjelaskan bahwa "Gizi" berasal dari bahasa arab, yaitu "Gidza" yang berarti "makanan". Menurut dialek Mesir "Gidza" dibaca ""Gidzi". Gizi sendiri adalah proses menggunakan makanan yang dikonsumsi melalui proses penyerapan, transportasi, penyimpanan, metabolisme dan pengeluaran zat-zat yang tidak digunakan. Selanjutnya Lienda menegaskan kembali 4 Pilar Gizi Seimbang, yaitu:

1. Mengkonsumsi makanan yang beragam
2. Membiasakan perilaku hidup bersih
3. Melakukan aktifitas fisik
4. Pertahankan berat badan normal

Lienda pun mengingatkan 10 pesan gizi seimbang, yang terlihat dalam gambar berikut ini


Mengutip QS Abasa ayat 4, yang artinya "Maka hendaklah manusia memperhatikan makanannya", Lienda mengajak semua peserta untuk mengevaluasi pola gizi seimbang di keluarga sebagai bagian dari upaya kita mengamalkan ayat tersebut. Karena ternyata, cara atau pola makan yang salah adalah penyebab utama kanker usus besar, darah tinggi, kencing manis, stroke, asam urat, dan berbagai penyakit lainnya. Dengan kita menjaga pola makan, kita telah berupaya mengamalkan salah satu ajaran Islam dan bonusnya kesehatan kita lebih terjaga.

Selanjutnya Lienda menampilkan gambar makanan favorit keluarga kebanyakan. Dan gambar itu mengundang senyum para ibu-ibu. Tidak sedikit yang tertawa malu membenarkan apa yang dikatakan gambar tersebut.


Materi berlanjut pada Pengaturan Jelang Shaum. Menurut Lienda, saat shaum sebenarnya kita tidak mengurangi makan, hanya merubah waktu makan kita. Sarapan yang biasa dilakukan pagi hari berubah menjadi Sahur yang dilakukan dini hari. Makan Siang yang biasa dilakukan tengah hari berubah menjadi Ifthar yang dilakukan saat bedug maghrib. Dan Makan Malam yang biasa dilakukan pada petang hari berubah menjadi malam hari.

3 hal penting dalam manajemen menu saat Ramadhan adalah: aplikasi, bumbu dasar, serta menyusun menu. Mengenai penyusunan menu setidaknya ada 5 prinsip yang harus diperhatikan :

1. Halal dan baik (sesuai QS al-Baqarah ayat 168)
2. Bergizi
3. Beranekaragam
4. Seimbang sesuai kebutuhan
5. Aman

Dalam menyusun menu alangkah baiknya jika kita memiliki master menu yang merupakan panduan dalam menyusun menu dengan pola yang bisa disesuaikan, apakah berganti setiap 5, 7, 10, atau bahkan 30 hari. Master menu terdiri atas, makanan pokok, lauk nabati/hewani, buah, dan sayur. Hal penting selanjutnya adalah bumbu dasar. Ini merupaka senjata ampuh di dapur kita dalam menyusun menu. Mengenai bumbu dasar ini, saya punya pengalaman sendiri yang akan coba saya tuangkan dalam tulisan berbeda.

Ada dua waktu makan yang utama saat Ramadhan, yaitu saat sahur dan berbuka. Beberapa hal yang harus diperhatikan saat sahur adalah :

1. Pilih makanan yang berkarbohidrat kompleks
2. Mengandung protein
3. Konsumsi sayur dan buah agar kebutuhan serat 25-30gram/hari dapat terpenuhi
4. Minumlah yang banyak. Usahakan kebutuhan 8 gelas per hari dapat terpenuhi saat sahur dan berbuka
5. Hindari makanan yang mengandung natrium tinggi

Adapaun saat berbuka, yang harus diperhatikan adalah

1. Jangan pilih asal manis, usahakan makanan dengan pemanis alami bukan pemanis buatan. Lebih disarankan buah-buahan yang manis, terutama kurma.
2. Gunakan pola makan seperti saat sahur dengan porsi secukupnya dan tidak berlebih
3. Jangan terlalu banyak yang mengandung lemak/gorengan
4. Minum yang cukup

Lienda juga memberikan tips untuk ibu-ibu hamil dan menyusui saat shaum yang terlihat dalam gambar berikut ini,


Di akhir sesi Lienda menyampaikan sebuah quote,

"Ramadhan bukan hanya untuk mengubah kebiasaan makan, tapi mengubah diri kita menjadi lebih baik"

#ODOPfor99days
#day61




Senin, 04 April 2016

Keep Writing

Alhamdulillah dapat kiriman foto ini pada tanggal 1 April dari seorang teman. Rupanya ini adalah tulisan saya yang dimuat di Majalah Risalah edisi bulan April. Saya sendiri belum menerima pemberitahuannya. Dan rasanya bahagia sekali.

Setelah sekian lama tulisan saya tidak lagi nongkrong di Majalah ini. Kini, akhirnya ada lagi tulisan saya yang dimuat. Dulu, saat kuliah tingkat 1, saya rajin mengisi rubrik "bunayya" di Majalah ini. Namun, karena kesibukan kuliah serta lanjut menikah di tengah-tengah kuliah, akhirnya kegiatan itu tersendat. Sempat kembali mengisi beberapa kali setelah menikah, namun tidak rutin.

Setelah melihat semangat anak-anak terutama Ira dalam menulis. Saya pun kembali tergerak untuk menulis lagi. Dengan menggunakan sarana ODOP for 99 days sebagai latihan, saya mulai belajar merutinkan kembali menulis walau dengan berbagai kendala.

Alhamdulillah dengan bergabung di grup ODOP for 99 days, semangat menulis yang naik turun bisa terus dipertahankan dengan hadirnya para cheerleader yang senantiasa mengawal semangat saya dalam menulis. Semoga kebiasaan menulis kembali hadir dan saya tidak DO dari grup ODOP for 99 days.

Terakhir, ada sebuah syair Arab yang selalu menjadi penyemangat saya untuk menulis.
العلم صيد و الكتابة قيده. قيد صيودك بالحبال الواثقة
"Ilmu itu bagaikan buruan dan Menulis adalah ikatannya. Ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat".

#ODOPfor99days
#day66