Tampilkan postingan dengan label belajar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label belajar. Tampilkan semua postingan

Kamis, 21 Januari 2016

Stimulasi Membaca dan Menulis Pada Anak (Part 4)

Lanjutkan Dengan Belajar Menulis
Sama seperti pada stimulasi membaca, stimulasi menulis pun akan lebih baik jika dilakukan sedini mungkin. Stimulasi belajar menulis diawali dengan stimulasi motorik halus. Anda dapat membaca lebih lanjut mengenai stimulasi motorik halus pada bayi di sini. dan stimulasi motorik halus pada anak usia 2-3 tahun di sini.

Seperti yang telah dipaparkan dalam tulisan yang lalu, belajar menulis harus diorientasikan bukan hanya pada keterampilan menulis huruf dan kata dengan rapih. Namun, lebih luas dari itu adalah untuk menuangkan ide serta mempengaruhi orang lain.

Untuk itu materi latihan menulis tegak bersambung merupakan salah satu materi yang harus dikaji ulang fungsinya. Karena tidak siginifikan dengan kebutuhan optimalisasi perkembangan anak. Jika orientasinya latihan motorik halus (fine motor skill). Maka ada banyak stimulus lain yang lebih bermakna dibandingkan hal tersebut.
Beberapa kegiatan yang bisa dilakukan dalam stimulasi menulis pada anak adalah :
1. Menulis pesan
Mulailah belajar menulis dengan belajar menyampaikan pesan melalui tulisan. Gantung kertas catatan kecil di pintu rumah atau di pintu kamar sebagai saran menuliskan pesan. Misalnya saat orangtua akan pergi, tuliskan pesan kepada anak-anak yang mengingatkan mereka akan waktu sholat serta makan siang.
2. Menceritakan kembali isi buku
Ajak anak-anak untuk menceritakan kembali buku kesukaannya. Lakukan dengan dialog dua arah. Awalnya proses menceritakan kembali dilakukan secara lisan. Kami menamainya tahap menulis lisan. Ajak mereka mengungkapkan hal-hal yang menarik menurut mereka dari buku tersebut. Setelah tahap menulis lisan ini lancar, barulah beranjak pada menulis tulisan.
Pada anak-anak kami, biasanya mereka mulai dengan menuliskan ulang isi cerita di bukunya. Selanjutnya mereka belajar menuliskan hal-hal yang menarik menurut mereka. Berlanjut pada komentar mereka tentang buku tersebut serta hikmah yang bisa mereka petik.
3. Menceritakan pengalaman pribadi
Setelah anak-anak bisa membaca, berikan mereka buku catatan harian (diary). Ajak mereka menceritakan pengalaman serta perasaan mereka dalam buku itu.
4. Menulis imajinasi
Anak-anak adalah seorang pemimpi ulung. Imajinasi mereka seringkali sampai di luar nalar kita. Bahkan pada beberapa anak, mereka sampai memiliki teman khayalan.
Saat anak-anak menceritakan imajinasi mereka tentang apa pun, ajak mereka untuk menuliskannya. Awalnya orangtua yang menuliskannya. Setelah itu perlihatkan kepada anak-anak. Biarkan mereka merasakan keseruan saat imajinasi mereka dituangkan dalam tulisan. Selanjutnya ajaklah mereka menuliskannya secara mandiri.
#ODOPfor99days #day15

Stimulasi Membaca dan Menulis Pada Anak (Part 3)

Tahapan Belajar Membaca
Pengalaman pra membaca yang baik akan menumbuhkan minat dan mengembangkan reading readiness pada anak. Karena anak-anak itu unik, maka tumbuhnya kesiapan itu berbeda-beda. Jangan mengahalang-halangi anak belajar membaca jika kesiapan itu ternyata muncul sebelum dia berusia 5 tahun. Juga jangan merasa khawatir, jika kesiapan itu ternyata belum muncul padahal anak sudah berusia 7 tahun. Lakukan terus kegiatan-kegiatan memberikan pengalaman pra membaca tanpa target usia.
Berdasarkan pengalaman kami, pemberian pengalaman pra membaca selanjutnya mendorong anak memiliki kemampuan membaca melalui tahapan-tahapan sebagai berikut:
1. Membaca gambar
Anak-anak yang terbiasa melihat label tulisan pada benda-benda di sekitarnya (baca: Immersion) selanjutnya akan mulai membaca tulisan pada setiap gambar atau benda yang mereka kenal. Jadikan kesenangan ini sebagai sebuah permainan.
Ajak anak-anak bermain membaca kemasan-kemasan makanan atau minuman yang mereka kenal saat mereka belum bisa membaca. Minta mereka untuk membacanya. Pasti mereka akan mengatakan sesuai dengan nama yang mereka kenal. Contohnya, saat anak kami diminta membaca tulisan di sepeda motor ayahnya dan tulisan di sepeda motor kakeknya. Maka dia akan menjawab yang satu "motor ayah" dan yang satu lagi "motor aki". Padahal tulisan di kedua sepeda motor itu sama, yaitu HONDA.
Ini menunjukkan tahapan membaca pada anak itu diawali dengan membaca gambar/benda. Saat itu dorong anak untuk membaca tulisan pada gambar-gambar atau benda-benda di sekitarnya. Hal ini untuk menumbuhkan kepercayaan dirinya. Dan ini kami sebut tahapan pertama kemampuan membaca pada anak-anak.
2. Mengenal huruf
Tahap selanjutnya adalah mengenal huruf. Anak-anak akan mulai bertanya tentang huruf apa ini, atau dibaca apa ini saat mereka menemukan tulisan atau buku yang mereka sukai. Ini merupakan tahapan selanjutnya pada kemampuan membaca anak-anak. Untuk itu, luangkan waktu untuk menjawab langsung pertanyaan anak tersebut. Karena itu merupakan moment AHA yang akan terus menumbuhkan minat serta kesiapan anak belajar membaca.
3. Membaca suku kata
Banyak ahli yang mengatakan bahwa sebaiknya mengajarkan membaca pada anak tidak dimulai dengan mengenalkan huruf, tapi dimulai dengan mengenalkan suku kata. Namun, berbeda dengan pendapat tersebut, pada anak-anak kami tahapan belajar membaca semuanya dimulai dengan mengenal huruf terlebih dahulu. Menurut hemat kami hal ini tidak mengapa selama itu tidak dikenalkan secara formal kepada anak.
4. Membaca buku
Setelah mengenal cara membaca suku kata, anak-anak akan langsung memulai petualangan belajar membacanya melalui buku. Biasanya saat anak-anak mulai mengenal suku kata, kami menyediakan buku belajar membaca seperti yang ada di sekolah-sekolah formal. Namun, belum juga buku itu selesai dipelajari anak-anak akan langsung mempraktekkan pengetahuannya melalui buku kesukaannya. Hingga mereka lancar membaca, buku belajar membaca itu tidak pernah dipelajari hingga selesai.
#ODOPfor99days #day14

Rabu, 20 Januari 2016

Stimulasi Membaca dan Menulis Pada Anak (Part 2)

Pre Reading Experience
Pengalaman pra membaca (pre reading experience) adalah upaya orangtua atau guru untuk mengajak anak menikmati dunia membaca sehingga tumbuh ketertarikan akan membaca dalam diri anak. Upaya ini dapat dilakukan sedini mungkin, bahkan sejak anak masih bayi. Ada beberapa kegiatan yang dapat dilakukan dalam pre reading experience.
1. Reading aloud
Yaitu kegiatan membacakan buku untuk anak. Kegiatan ini dilakukan dengan tujuan anak merasa senang dan tertarik dengan buku. Sehingga saat mereka sudah bisa membaca sendiri, buku menjadi sahabat mereka.
Sebaiknya kegiatan ini dilakukan secara konsisten setiap hari. Ciptakan suasana menyenangkan saat membaca buku dengan intonasi dan gaya membaca yang baik.
2. Flashcard
Yaitu mengenalkan anak dengan dunia membaca melalui kartu-kartu kata yang disusun dengan huruf besar dan warna mencolok. Kartu-kartu tersebut berisi kata-kata sehari-hari yang akrab di telinga anak-anak.
Seperti namanya, kartu-kartu ini diperlihatkan kepada anak-anak hanya dalam waktu 1 detik. Dilakukan secara konsisten dan lebih dini akan lebih baik hasilnya.
3. Immersion
Yaitu metode yang membawa anak masuk dalam dunia tulisan. Metode ini dilakukan dengan menuliskan nama benda-benda juga tempat di sekitar anak dan menempelkannya pada benda atau tempat tersebut. Metode ini bertujuan agar anak terpapar dengan tulisan di sekitarnya dan terbiasa untuk membaca.
4. Membuat perpustakaan di rumah
Siapkan rak khusus untuk buku yang disimpan di satu tempat khusus di dalam rumah. Kita sebut ruangan tersebut perpustakaan. Rancang ruanganna menjadi menarik dan menyenangkan untuk anak.
5. Jalan-jalan ke toko buku atau perpustakaan
Jadikan salah satu kegiatan liburan atau family time di keluarga kita adalah jalan-jalan ke toko buku atau perpustakaan. Jadikan juga membeli buku atau jalan-jalan ke perpustakaan adalah salah satu hadiah yang bisa didapatkan anak-anak saat berhasil melakukan sebuah kebaikan.
6. Menempel poster 
Jadikan poster huruf, suku kata atau poster lainnya yang ada kaitannya dengan belajar membaca sebagai salah satu hiasan dinding di rumah. Tempelkan poster-poster tersebut di tempat yang terjangkau oleh penglihatan anak-anak.

Metode serta kegiatan apa pun yang dilakukan, ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan dalam memberikan pengalaman pra membaca, yaitu :
1. Sabar dan istiqomah
Dua kata ini merupakan kunci utama dalam upaya mendidik anak, termasuk dalam memberikan pengalaman pra membaca. Sikap sabar salah satunya ditandai dengan sikap pantang menyerah dan tidak terburu-buru ingin mendapatkan hasil. Karena setiap anak itu unik. Mereka memiliki ritme dan pola yang berbeda satu sama lain. Jangan pernah mengatakan bahwa metode yang kita lakukan tidak berhasil. Karena tugas kita adalah berusaha, sedangkan hasilnya ada di tangan Allah.
2. Menyenangkan
Dunia anak adalah dunia bermain. Ciptakan kegiatan-kegiatan dalam pengalaman pra membaca ini menjadi seasyik bermain. Sehingga tumbuh minat dan ketertarikan anak akan dunia membaca
3. Menghadirkan diri secara utuh
Saat memberikan stimulasi pada anak, hadirkan diri dan pikiran kita utuh bersamanya. Jangan simpan pikiran kita pada pekerjaan yang belum selesai, atau pesan yang belum dibalas. Karena kehadiran kita secara utuh akan besar pengaruhnya pada proses stimulasi yang kita lakukan, walau bentuknya sederhana.
4. Menjadi teladan
Mendidik paling efektif jika dilakukan melalui teladan. Berikan contoh yang baik dengan secara demonstratif meluangkan waktu membaca buku di depan anak dengan penuh kesenangan.
Bersambung...
#ODOPfor99days #day13

Selasa, 19 Januari 2016

Stimulasi Membaca dan Menulis Pada Anak (Part 1)

Orientasi Belajar Membaca
Membaca dan menulis merupakan dua kemampuan dasar di samping berhitung yang harus dimiliki seorang anak. Kemampuan membaca dan menulis merupakan salah satu modalitas dalam belajar. Untuk itu dua jenis kemampuan ini seringkali menjadi perhatian orangtua yang memiliki anak usia pra sekolah. Banyak di antara mereka berharap agar di usia sekolah anaknya sudah memiliki dua keterampilan ini.
Perdebatan mengenai kapan sebaiknya mengajarkan membaca dan menulis pada anak, hingga hari ini belum juga usai. Banyak para ahli menyatakan dampak negatif mengajarkan membaca dan menulis secara formal pada anak usia pra-sekolah. Namun, seolah tidak menggubris pendapat tersebut. Hingga hari ini masih banyak sekali TK-TK dan yang sejenisnya melakukan hal itu. Alasannya, tuntutan pra syarat masuk sekolah dasar.
Terlepas dari perdebatan tersebut, jika membaca buku "Membuat Anak Gila Membaca"-nya Ust. M. Fauzil Adhim, kita akan digiring pada pemahaman bahwa orientasi utama dari mengajarkan membaca pada anak bukan sampai pada BISA, tapi pada SUKA bahkan GILA membaca. Karena membaca menurut beliau bukan hanya sarana menggali informasi. Namun, merupakan sarana utama untuk mengenal Rabb. Sebagaimana dinyatakan dalam wahyu pertama yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW.
"Bacalah! Dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakan. Bacalah! Dan Tuhanmu yang Maha Mulia..." (QS al-'Alaq ayat 1-2)
Beliau menegaskan bahwa ayat ini diturunkan pada zaman Jahiliyyah. Dimana orang-orang di zaman itu bukanlah orang yang tidak memiliki ilmu. Namun, mereka tidak mampu mengeratkan keilmuannya dengan keimanan. Sehingga turunnya ayat ini, mewajibkan kita membaca dan mencari ilmu dengan tujuan mengokohkan bangunan iman dalam dada kita.
Dengan munculnya berbagai metode, strategi serta sarana belajar membaca. Kini banyak anak yang bisa membaca pada usia dini. Lantas, apakah saat mereka bisa membaca, mereka pun suka membaca? Jawabannya belum tentu. Ketika itu terjadi apakah tujuan membaca sebagai modal belajar dan mencari ilmu menjadi tercapai?
Jika pembelajaran membaca hanya diorientasikan pada bisa membaca. Akhirnya anak-anak pun digegas untuk bisa membaca. Hasilnya setengah matang, bahkan mentah. Mereka mungkin bisa membaca di usia dini, namun tak sedikit diantara mereka yang akhirnya tidak suka bahkan benci dengan dunia membaca.
Dalam teori perkembangan dikenal sebuah formula HET yang merupakan singkatan dari Heredity (bawaan), Environment (lingkungan), dan Time (kematangan). Formula ini menjelaskan bahwa perkembangan itu dipengaruhi oleh tiga hal, yaitu pengaruh bawaan yang diturunkan secara genetik,  pengaruh lingkungan tempat individu itu berkembang, serta pengaruh kematangan baik fisik maupun psikis. Ketiga faktor tersebut memiliki peran yang seimbang dalam menentukan pola perkembangan seseorang.
Demikian pula pada belajar membaca. Selain kecerdasan sebagai faktor H dan pembelajaran sebagai faktor E, dibutuhkan pula kesiapan sebagai faktor T. Kesiapan  membaca (reading readiness) akan memunculkan minat dan ketertarikan anak untuk belajar membaca. Untuk menumbuhkannya, maka sepatutnya yang dilakukan pada anak usia dini bukanlah belajar membaca, tapi memberikan pengalaman pra membaca (pre reading experience)
Bersambung....
#ODOPfor99days #day12

Rabu, 24 September 2014

PAUD bukan SAUD

Diskusi di Grup HE berbasis potensi dan akhlaq hari ini (selasa, 23 September 2014) salah satunya membahas tentang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Bunda Septi mengatakan bahwa PAUD (Pendidikan Usia Dini) bukan SAUD (Sekolah Usia Dini). Mindset kebanyakan kita tentang pendidikan adalah sekolah. Padahal PAUD terbaik adanya di rumah

Ditegaskan oleh Ust. Harry bahwa pada usia dini yaitu 0 sampai 7/8 tahun, anak adalah amanah penuh keluarga. PAUD bukanlah sekolah persiapan untuk masuk SD. Jangan renggut hak anak untuk dekat dengan ibu dan keluarganya di usia dini. Adapun mengenai sosialisasi yang seringkali dijadikan alasan untuk Sekolah di Usia Dini pernah saya ulas dalam tulisan ini.

Konsep pendidikan pada masa ini difokuskan pada bahasa ibu,  agar anak tidak mengalami gagap bahasa dan dapat mengungkapkan gagasan dengan baik. Masa usia dini adalah masa anak untuk bercengkrama dengan bahasa ibu. Mempelajari dan memahami tradisi baik lingkungan sekitar. Menyerap berbagai kearifan lokal yang tentunya diselaraskan dengan akhlaq Islam.

Pada usia dini anak juga belajar untuk memiliki imaji positif tentang Allah-diri-alam, kekuatan fisik/leadership di alam. Hal ini bisa dilakukan dengan kegiatan-kegiatan memelihara hewan, merawat tanaman, outing bersama keluarga, serta kegiatan-kegiatan outdoor lainnya. Tadabbur di alam dengan cara belajar bersama alam, sambil memandang keindahan ciptaan Allah, sambil bergerak dan berimajinasi. Kegiatan seperti ini akan jauh lebih berkesan dan efektif untuk sensori-motoriknya.

Berkaca dari kisah masa kecil Nabi Muhammad saw yang tinggal di kampung Bani Sa'diyah. Di tempat itu Rasulullah saw kecil mendapatkan pembelajaran bahasa ibu yang baik. Karena kampung Bani Sa'diyah yang masih asri terkenal dengan tutur bahasa arab mereka yang lembut dan fasih. Di sana Nabi Muhammad saw juga ikut menggembalakan kambing, bermain di alam, naik dan berlarian di bukit-bukit. 

Pada masa usia dini juga merupakan masa pengembangan kemandirian anak yang dimulai dengan kemandirian dalam melayani kebutuhan pribadinya. Ajarkan kemandirian tersebut sejak anak memasuki usia 12 bulan dengan cara melepaskan satu persatu kegiatan "dilayani" oleh orangtua secara bertahap. Sehingga di usia 7 tahun anak mulai bisa melayani kebutuhan pribadinya seperti makan, minum, memakai pakaian, buang air, merapikan kamar, merapikan mainan dan sebagainya.

#repost
#ODOPfor99days
#day16

Minggu, 16 Februari 2014

Muraja'ah-Ziyadah

Cita-cita Bani untuk menjadi Hafidz membuat kami semangat untuk terus mencari cara mengembangkan hafalan Bani dirumah. Awalnya kami memasukkan Bani ke sebuah Madrasah Tahfidz. di Madrasah ini Bani belajar setiap sore selama 5 hari. Namun, setelah 3 bulan dijalani kami tidak mendapatkan perkembangan yang signifikan. Oleh karena itu, akhirnya kami memutuskan mengembalikan Bani ke rumah.

Maka sejak awal bulan Pebruari 2014, metode yang kami gunakan adalah Muraja'ah-Ziyadah. Pada metode ini di pagi hari, Bani kami ajak untuk mengulang ayat2 yang sudah pernah dihafalnya, sebagai bagian dari menjaga hafalannya. Kemudian setelah shalat dzuhur Bani mulai menambah hafalannya yang baru. Pada sore hari, Bani kembali mengulang hafalannya dan sebelum tidur dia pun kembali menambah tabungan hafalannya.

Begitu siklus hafalan yang kami terapkan pada Bani. Pada pelaksanaannya masih banyak terkendala dengan naik turunnya motivasi Bani untuk menghafal. Tidak jarang kami harus bersitegang dulu, agar Bani mengikuti program dengan disiplin. Hal ini, sering pula membuat kami merefleksikan kembali minat Bani untuk menghafal al-Qur'an. Namun, setiap kali dilakukan refleksi Bani selalu dengan yakin menyatakan cita-citanya untuk menjadi Hafidz.

Pada akhirnya, kami masih harus banyak belajar untuk menggali minat-minat Bani yang lain. Karena usianya yang baru 9 tahun, masih merupakan masa untuk Bani mengeksplorasi berbagai hal.
Wallahu 'Alam.

#ODOPfor99days
#day85
#repost

Jumat, 07 Februari 2014

Belajar Kembali Makna Belajar

“Yang diperlukan oleh anak-anak pada saat ini bukanlah kurikulum baru dan lebih baik, tetapi akses lebih
luas terhadap dunia nyata, waktu dan ruang lebih banyak untuk merenungkan pengalaman mereka, serta penggunaan daya khayal dan permainan untuk memaknai kehidupan nyata yang mereka jalani." (John Holt)

Kalimat di atas merupakan kutipan dari makalah Mas Aar Sumardiono,yang berjudul Keseharian Kunci Sukses HS. Makalah ini disampaikan dalam webinar HS Kamis lalu yang memasuki minggu keempat. Banyak hal yang kemudian menyadarkan saya dari paparan juga diskusi yang berlangsung dalam webinar tersebut.

Malam itu akhirnya saya menyelami kembali makna belajar. Tak banyak hal baru sebenarnya. Namun karena selama ini pengetahuan tersebut hanya menjadi teori semata. Akhirnya saya pun banyak tersentak. Karena pada prakteknya semua yang saya lakukan jauh dari teori yang saya pelajari.

Bagi seorang anak sebenarnya tidak ada dikotomi antara bermain dan belajar. Sikap dan perilaku mereka yang natural telah menjadikan belajar pun hakikatnya merupakan bagian penting dari kehidupan mereka. Bagi mereka sebenarnya belajar sama alaminya dengan bernafas. Karena dalam setiap aktifitas, mereka menemukan berbagai pengalaman dan pengetahuan baru. Anak-anak adalah para penemu alami, yang dengan kepolosannya mereka mengeksplorasi dunianya dengan suka cita.

Namun, lain lagi bagi orang dewasa. Kungkungan formalitas yang selama bertahun-tahun dijalani telah membuat mereka kehilangan sensitifitas belajar. Bagi kebanyakan orang dewasa (baca: orangtua) perilaku yang tidak terstruktur, pandangan yang tidak fokus, serta sikap yang santai -yang ditunjukkan oleh anak-anak dalam aktifitasnya- dipandang telah membuat anak kehilangan tujuan belajar yang sesungguhnya. Maka dengan segenap otoritasnya mereka pun memaksakan pandangan 'salah' mereka terhadap anak-anaknya. Sehingga, mewujudlah anak-anak yang menjadikan belajar sebagai kegiatan yang penuh beban dan hampa makna. Naudzubillahi min dzalik...

Pada hakikatnya, anak belajar dari apa yang dia alami setiap hari. Saat anak mengalami kegembiraan, dia akan belajar tentang hakikat kegembiraan dan bagaimana cara membuat orang lain gembira. Saat anak mengalami kesedihan, anak akan belajar tentang hakikat kesedihan dan bagaimana cara untuk mereduksi kesedihannya. Posisi orangtua (juga orang dewasa lainnya) pada saat itu adalah sebagai fasilitator yang membantu anak menemukan makna belajar yang lebih mendalam. Membantu anak mengikat makna atas berbagai peristiwa yang dialaminya.

Dalam proses Homeschooling, hal ini akan terasa lebih mudah. Orangtua dapat memanfaatkan berbagai kegiatan sehari-hari anak untuk proses belajarnya terbebas dari berbagai formalitas dan keharusan. Jika proses HS kita masih terbebani dengan formalitas dan keharusan, maka artinya kita telah memindahkan sekolah ke dalam rumah.

Proses keseharian, merupakan kegiatan sehari-hari anak seperti kegiatan makan, bermain, membaca, nonton, dan sebagainya.  Atau biasa juga berupa kegiatan orangtua di mana anak ikut terlibat di dalamnya. Belajar melalui keseharian anak- anak merupakan metode belajar yang mudah dan murah. Karena kita akan menggunakan sumber daya yang tersedia di sekitar kita. Sumbernya bukan hanya buku teks, tapi berbagai hal yang ditemui anak. Dengan demikian anak memiliki ruang eksplorasi yang lebih luas.

Yang terpenting dalam belajar melalui keseharian adalah proses pemaknaan aktifitas. Dalam hal ini dibutuhkan keterlibatan orangtua secara aktif dan kreatif dalam aktifitas anak. Sehingga hal-hal yang tampak biasa dapat menjadi luar biasa dengan adanya pengikatan makna atas kegiatan tersebut.

Salah satu cara yang efektif dalam menumbuhkan pemaknaan adalah dengan bertanya terbuka. Melalui bertanya, orangtua juga dapat mengenali dan menggali minat anak. Banyaklah bercerita dan mengobrol dengan anak tentang berbagai hal terkait aktifitas yang sedang dilakukannya. Bantu anak menemukan pengalaman dan pengetahuan baru melalui aktiftasnya.

Paparan di atas telah mengingatkan saya tentang makna belajar yang sesungguhnya. Karena belajar bukan hanya tentang membaca, menulis dan berhitung. Belajar juga bukan hanya tentang menghafal dan mendapat nilai. Tapi, belajar sesungguhnya adalah proses mengambil hikmah dari setiap kejadian dalam kehidupan kita untuk selalu menjadi lebih baik dari hari kemarin.

Hal ini memotivasi saya untuk terus mengevaluasi proses belajar yang kami lakukan di keluarga kami. Agar anak-anak tidak lagi mengalami proses belajar seperti kami, yang hanya memindahkan isi buku ke dalam pikiran, tanpa mampu mengendap dalam kalbu. Astaghfirullah... Aamiin.

#ODOPfor99days
#day45
#repost

3 TAHAP PEMBIASAAN IBADAH KEPADA ANAK

Dari Ibnu 'Amr bin al-'Ash ia berkata: Rasulullah SAW telah bersabda : Perintahkanlah anak-anakmu untuk shalat saat mereka berusia tujuh tahun dan pukullah mereka (jika tidak melaksanakan shalat) saat usia mereka sepuluh tahun, dan pisahkanlah tempat tidurnya. (HR Abu Daud).
Anak adalah amanah Allah SWT yang dititipkan kepada para orangtua. Kalimat ini mengandung makna yang dalam, karena menunjukkan besarnya tanggungjawab orangtua terhadap anak. Kewajiban orangtua terhadap anaknya bukan hanya sekedar pemenuhan pangan dan sandang belaka. Namun, lebih dari itu, Islam menekankan agar para orangtua mampu menjaga fithrah yang telah dibawa anak sejak lahir. Fithrah yang menuntun hambaNya untuk senantiasa hanif, dan cenderung pada ketaqwaan hanya kepada Allah SWT.
Rasulullah saw telah memberikan uswah bagi umat Islam dalam berbagai segi kehidupan, termasuk dalam pendidikan anak. Hadits yang dikutip di atas merupakan rambu-rambu yang telah diajarkan oleh Rasulullah tentang bagaimana tahapan yang harus dilalui para orangtua dalam mendidik dan membiasakan anak untuk taat melaksanakan berbagai ritual ibadah sebagai manifestasi taqwa.
Ritual ibadah yang disentuh oleh hadits tersebut adalah ibadah shalat. Karena shalat merupakan amalan ibadah yang akan pertama kali dihisab di Yaumul Akhir. Oleh karena itu, pengajaran Rasulullah saw dalam hadits tersebut dapat dipandang sebagai penekanan terhadap hal yang utama dan berlaku juga dalam membiasakan berbagai jenis ibadah lainnya. Oleh karena itu tulisan ini diarahkan pada pola pembiasaan ibadah kepada anak dengan menitikberatkan pada ibadah shalat.
Menyimak hadits di atas, setidaknya ada tiga tahapan penting yang harus dilakukan orangtua dalam mendidik dan membiasakan ibadah kepada anak. Tiga tahapan itu adalah :
1.      Tahap Pengenalan
Tahap ini dimulai sedini mungkin, bahkan sejak anak masih dalam kandungan ibunya. Tahapan ini akan berakhir saat anak berusia 7 tahun. Sabda Nabi dalam hadits tersebut dimulai dengan “Perintahkanlah anak-anakmu untuk shalat saat mereka berusia tujuh tahun” menunjukkan bahwa pendidikan dan pembiasaan ibadah telah dimulai sebelum anak memasuki usia 7 tahun. Karena tidak mungkin kita memerintahkan kepada seseorang, hal yang belum dia ketahui. Jika demikian, tentulah perintah yang kita berikan akan menjadi tidak efektif.
Pada usia bayi sampai 2 tahun, anak mengenal dunianya melalui kemampuan sensori (pengindraan), seperti meraba, melihat, mencium, dan mengecap. Bayi tidak mempunyai pengertian tentang apa yang ada di lingkungannya, oleh karena itu peran orangtua pada masa ini sangat besar dalam mengenalkan kebiasaan ibadah kepada bayi. Berikan pengenalan ibadah kepada bayi melalui bahasa. Seperti mengucapkan basmalah dan hamdalah saat memandikan, memberi makan, memakaikan pakaian dan sebagainya.
Pada tahap ini orangtua mulai mengenalkan anak dengan berbagai jenis ibadah yang telah disyariatkan untuk umat Islam. Caranya dengan melakukan amalan ibadah secara demonstratif di depan anak. Perlihatkan dan sebutkan kepada anak nama ibadah yang sedang dilakukan oleh orangtuanya. Gunakan istilah-istilah syariat dan jangan mengganti istilah ibadah dengan istilah lain, contohnya seperti mengganti istilah “shalat” dengan “alloh”. Hal ini penting, untuk mendekatkan dan menjadikan ibadah sebagai bagian dari kehidupan anak.
Pada usia selanjutnya pengertian anak terus berkembang. Di usia TK, yaitu sekitar 3-6 tahun Syamsu Yusuf (2001) menjelaskan bahwa kesadaran beragamanya ditandai dengan sikap yang reseptif (menerima) meskipun banyak bertanya. Oleh karena itu, pada masa ini mulailah mengajak anak untuk ikut berpartisipasi dalam kegiatan ibadah. Ajaklah anak untuk ikut shalat bersama kita, serta sediakan fasilitas ibadah yang dibutuhkan oleh anak. Jadikan saat ibadah adalah saat yang menyenangkan bagi anak. Jangan bebani anak dengan istilah wajib dan dosa.
Berikan penjelasan yang benar dan jujur saat anak bertanya tentang ibadah yang kita lakukan. Gunakan bahasa yang mudah dan tidak terlalu panjang, agar anak mudah memahaminya. Pada masa ini anak sudah meningkat kemampuan intelektual serta bahasanya, oleh karena itu anak sudah mulai bisa menghapal bacaan shalat, do’a-do’a sehari-hari, serta sudah dapat diajarkan membaca al-Qur’an.
Selain mengenalkan berbagai jenis ibadah kepada anak, yang terpenting dari tahap pengenalan adalah memberikan kesan positif terhadap pelaksanaan ibadah. Jangan jadikan pelaksanaan ibadah sebagai sarana pemberian hukuman, seperti anak harus menghafal Qur’an, menghafalkan do’a sebagai hukuman karena kesalahannya. Jangan pula praktek ibadah dijadikan sarana untuk menakut-nakuti anak, seperti ancaman dikhitan kepada anak jika anak berbuat kesalahan, karena khitan merupakan salah satu sunnah Rasul dan bagian penting dari ibadah.

2.      Tahap Pembiasaan
Tahap pembiasaan ibadah merupakan tahapan di mana anak mulai diperintahkan melakukan ibadah secara rutin dan mulai adanya evaluasi terhadap pelaksanaan ibadahnya. Tahap ini dimulai saat anak berusia 7 sampai menjelang 10 tahun.
Abin Syamsuddin M (1996) menyatakan bahwa penghayatan keagamaan anak pada usia ini semakin mendalam, mereka sudah memahami makna keharusan dalam kegiatan ritual ibadah. Sikap keagamaan pun sudah disertai pengertian meskipun masih terbatas pada hal-hal yang bersifat konkrit. Untuk itu, pada usia ini anak sudah bisa dikenalkan dengan istilah wajib, sunat, haram, dan sebagainya.
Terkait dengan pengertian yang semakin berkembang, pada masa ini pembiasaan ibadah kepada anak juga harus disertai dengan pemahaman. Agar anak mulai dapat belajar menginternalisasi kegiatan ibadah sebagai bagian dari kewajibannya. Zakiah Daradjat (1986) mengemukakan bahwa pendidikan agama di usia ini merupakan dasar bagi pembinaan sikap positif terhadap agama dan berhasil membentuk pribadi dan akhlaq anak, sehingga saat memasuki usia remaja, anak telah mempunyai pegangan atau bekal dalam menghadapi berbagai goncangan yang biasa terjadi pada masa remaja.
Pendidikan karakter yang hari ini disebut-sebut sebagai pola pendidikan yang tepat dalam menghadapi gejala kerusakan akhlaq haruslah diorientasikan pada penanaman dan pembiasaan ibadah. Karena ibadah dapat membentuk karakter anak menjadi seorang pribadi yang bertauhid dan berakhlaq.
Pada tahapan ini, selain pembiasaan kegiatan ritual ibadah juga dilakukan evaluasi terhadap pelasanaan ibadah tersebut. Ajak anak untuk melihat kembali apakah pelaksanaan ibadah yang dilakukannya sudah tepat. Apakah wudlunya sudah sempurna, gerakan dan bacaan shalatnya sudah tepat, shaumnya sudah benar, dan apakah bacaan alQurannya sudah tartil?
Berikan penekanan pada aspek-aspek ibadah yang masih belum dikuasai anak secara baik. Jika anak masih banyak kesalahan dalam gerakan shalat, lakukan latihan terus menerus hingga gerakannya baik. Jika anak bacaan al-Qur’annya belum tartil, berikan pembelajaran yang lebih intensif. Jangan sampai orangtua sangat resah saat usia 7 tahun anak belum bisa membaca, namun tidak merasa resah bahkan bersikap tak acuh saat usia 7-10 tahun anak belum bisa membaca al-Qur’an.
Pada tahapan ini anak juga mulai dikenalkan dengan istilah taklif, serta kewajiban yang membebaninya. Usia 10 tahun merupakan awal masa pubertas, yaitu gerbang anak memasuki masa baligh. Di mana pada masa ini anak sudah memiliki beban kewajiban sebagaimana layaknya seorang muslim. Peran orangtua sangat penting dalam mengenalkan masa ini kepada anak. Jangan sampai anak mendapatkan informasi yang salah karena berasal dari sumber yang salah. Biarkan anak mendapatkan informasi yang benar tentang masa taklif dari sumber yang benar.

3.      Tahap Internalisasi
Tahapan ini adalah tahap puncak dari pendidikan dan pembiasaan ibadah kepada anak. Pada masa ini anak harus sudah terbiasa melakukan ibadah dan menjadikan ibadah sehari-hari sebagai bagian penting dari aktifitasnya. Tahapan ini dimulai saat mereka memasuki usia 10 tahun.
Evaluasi dan pengawasan yang dilakukan pada masa ini harus lebih intensif dibandingkan pada masa sebelumnya. Hal ini terlihat dari penekanan adanya hukuman fisik yang layak dilakukan orangtua terhadap anak saat mereka tidak mau melakukan shalat. Inilah yang seringkali terabaikan oleh para orangtua. Saat menyadari anaknya semakin besar, seringkali orangtua cenderung membiarkan anaknya dan tidak lagi memperhatikan secara intensif dengan asumsi sudah saatnya mereka mandiri.
Pada masa ini anak memang dituntut untuk mulai mandiri baik secara emosional maupun pribadi. Namun, mandiri bukan berarti lepas dari pengawasan orangtua. Pengawasan dan evaluasi terhadap praktek ibadah anak masih harus dilakukan bahkan harus lebih intensif, namun dengan metode yang berbeda dengan metode pengawasan yang diterapkan saat mereka masih anak-anak.
Pada usia remaja, orangtua harus dapat menempatkan dirinya sebagai teman atau sahabat bagi anak-anaknya. Pola instruksi tidak akan mampu menumbuhkan kemandirian secara efektif. Sebaiknya perbanyak diskusi agar tumbuh pemahaman yang mendalam akan proses ibadah yang dilakukan anak. Karena pada tahap ini, anak harus sudah melakukan ibadah karena keimanan yang tumbuh dalam dirinya.

Pada masa awal remaja, anak akan mengalami sikap skeptis terhadap ibadah yang selama ini sudah rutin dilakukannya. Hal ini dipicu oleh tumbuhnya sikap negatif terhadap pelaksanaan ibadah (meskipun tidak selalu terbuka) disebabkan alam pikirannya yang kritis dan melihat kenyataan orang-orang hipokrit dalam pengakuan dan ucapan yang tidak selaras dengan perbuatannya. Untuk itulah pengawasan dan evaluasi yang lebih intensif penting dilakukan orangtua sebagai penanggungjawab utama terhadap pola pendidikan dan pembiasaan ibadah kepada anak.

#ODOPfor99days
#day46
#repost

Sabtu, 14 Desember 2013

Belajar Menulis Itu...

Salah satu keterampilan dasar yang selayaknya dimiliki oleh anak usia 7 tahun menurut Kurikulum Pendidikan Nasional adalah keterampilan menulis. Bahkan, di beberapa sekolah dasar, keterampilan ini menjadi salah satu pra syarat diterimanya seorang anak untuk masuk sekolah tersebut. Lebih dahsyat lagi, di tingkat Sekolah Dasar secara rutin dilakukan lomba Calistung (Baca, Tulis, Hitung) untuk kelas rendah. Di mana tes yang diberikan dalam lomba tersebut salah satunya adalah anak diminta menulis rapih dengan durasi waktu tertentu sebanyak satu halaman penuh.

Tuntutan untuk duduk diam dan menulis huruf per huruf dengan rapi merupakan salah satu hal yang membuat anak kami menghindar dari sekolah. Ketidaksiapannya untuk duduk diam dalam jangka waktu tertentu sambil mengerjakan tugas cukup dirasa membebani anak kami. Dan kasus ini banyak dialami oleh siswa-siswa sekolah dasar hari ini. Kondisi ini pula yang seringkali menjadi "perseteruan" antara ibu dan anak. Dimana sang ibu menuntut anaknya untuk mau mengikuti instruksi guru, sedangkan anak merasa tertekan dengan tuntutan tersebut.

Menyikapi kondisi tersebut, membuat kami mencoba menyusun ulang konsep belajar menulis bagi anak-anak. Pola pembelajaran menulis yang terjadi di sekolah-sekolah dasar- terutama yang konvensional- nyata-nyata banyak menimbulkan ekses negatif pada diri anak. Sehingga, kami berkeyakinan bahwa belajar menulis, bukan hanya sekedar belajar menuliskan huruf dan kata, serta memperindah bentuk tulisannya. Namun, lebih pada pembelajaran untuk mengungkapkan ide dan gagasan dalam bentuk tulisan.

Tulisan sebagai sarana komunikasi memiliki peran penting dalam kehidupan manusia. Ide yang diungkapkan secara lisan, seringkali mudah terlupakan karena tidak terdokumentasikan. Berbeda dengan ide dan gagasan yang dituangkan dalam bentuk tulisan. Mereka akan abadi, karena terdokumentasikan. Orang bisa melihat kembali ide tersebut di lain waktu bahkan bisa menjadi referensi bagi orang-orang yang membutuhkan ide tersebut.

Dengan keyakinan inilah, kami mulai menanamkan kepada anak-anak kami untuk berani menuliskan ide dan gagasan sesederhana apa pun itu. Tak ada kritikan atas bentuk tulisan maupun kerapihannya. Apalagi dengan teknologi hari ini, menulis tidak lagi menggunakan media alat tulis. Meskipun media alat tulis tetap penting sebagai bagian dari stimulasi motorik halus mereka.

Anak-anak biasanya memulai belajar menulis dengan menuliskan kembali buku cerita yang sudah mereka baca. Selanjutnya mereka belajar menuliskan pengalaman, setelah itu beralih pada menuliskan imajinasi dan pemikiran mereka. Memang belum banyak yang kami lakukan, namun setidaknya dorongan yang kami lakukan cukup membuat anak-anak senang dengan dunia tulis menulis.

Salah satu hasil karya menulis Ira, yang hari ini berusia 6 tahun mulai dpublikasikan di sini. Atau juga hasil tulisan Bani, 9 tahun yang juga dipublikasikan di sini.

Kini, di usia 8 tahun Ira memiliki blog sendiri sebagai sarana menyalurkan idenya dalam dunia tulis menulis

#ODOPfor99days
#day42
#repost

Selasa, 10 Desember 2013

Melibatkan Anak Dalam Kegiatan Sehari-hari

Proses belajar Homeschooling yang paling mudah dan murah adalah melibatkan anak-anak dalam kegiatan orangtua. Ada banyak keuntungan yang didapat dengan melibatkan anak-anak dalam kegiatan kita. Salah satunya adalah menanamkan rasa tanggungjawab dan memupuk kemandirian. Yang biasa kami lakukan di rumah adalah dengan melibatkan mereka dalam aktifitas merapikan rumah. Mulai dari merapikan kamar, merapikan mainan, rak buku,dan pakaian.

Kami pun melibatkan mereka dalam kegiatan mencuci pakaian, mencuci piring, mengepel lantai, mencuci karpet, serta kegiatan mengurus tanaman, walaupun untuk tanam-menanam kami pun orangtuanya baru belajar. Namun dengan melibatkan mereka dalam kegiatan tersebut, akhirnya kami pun sama-sama belajar. Alur belajar menjadi sebuah diskusi dan saling berbagi, bukan proses belajar yang menggurui dan merasa paling tahu.

Selain kegiatan rumah tangga, anak-anak juga dilibatkan dalam kegiatan yang berkaitan dengan pekerjaan orangtua. Seperti yang kami lakukan saat terjadi gerhana bulan serta gerhana matahari Mei lalu. Sebagai pengurus di Mesjid tempat kami tinggal, kami biasa membuat surat edaran tentang pelaksanaan sunnah-sunnah seputar gerhana. Kami mengkoordinir kegiatan shalat Kusuf dan Khusuf serta penampungan shadaqah yang dilakukan saat terjadi gerhana.

Ada banyak hal yang dapat kami pelajari melalui kegiatan-kegiatan tersebut, di antaranya :
1. Pembelajaran kemandirian dan penanaman rasa tanggungjawab
Mandiri dan tanggungjawab dapat tumbuh dengan baik jika diawali dengan kepercayaan. Saat orangtua memberikan kepercayaan kepada anak untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan orangtua, saat itulah kepercayaan tersebut tumbuh. Kepercayaan yang ditanamkan orangtua dalam diri anak kemudian menumbuhkan rasa percaya diri serta tanggungjawab yang akhirnya tumbuh dalam kemandirian anak.

Namun, hal tersebut tidak akan tumbuh jika proses anak terlibat dalam kegiatan orangtua diawali dengan paksaan, perintah, bahkan ancaman. Sebaiknya orangtua mengawali proses tersebut dengan ajakan dan kepercayaan penuh terhadap anak. Kepercayaan penuh ditandai dengan minimnya instruksi dan koreksi dan memaksimalkan proses memberi teladan serta dorongan.

2. Eksplorasi berbagai ilmu pengetahuan baru
Kegiatan rumah tangga ataupun kegiatan lainnya merupakan sarana yang paling efektif untuk mengeksplorasi rasa ingin tahu anak. Pada proses kegiatan-kegiatan tersebut anak akan banyak memberikan pertanyaan serta tanggapan. Akhirnya diskusi pun tak dapat terhindarkan. Hal ini membuat anak bukan hanya memperoleh keterampilan namun juga pengetahuan. Proses pembelajaran yang terjadi pun bersifat mengalir, tidak formal, dan tidak terkesan menggurui namun sarat tetap makna karena belajar dilakukan melalui kereleaan dan bersifat menyenangkan untuk anak-anak.

3. Mendekatkan hubungan orangtua-anak serta antar saudara
Kegiatan bersama menuntut anak untuk belajar bekerjasama, saling menghargai, saling memahami, dan saling membantu. Sang kakak akan belajar untuk bersabar saat adiknya terkesan mengganggu pekerjaannya. Dan sang adik belajar untuk menghargai hasil pekerjaan kakaknya. Sang kakak juga belajar menjadi tutor untuk adiknya. Keceriaan yang nampak dalam berkegiatan bersama membuat anak-anak tampak lebih dekat dan akrab. Bagi kami, hal ini cukup mampu mereduksi persaingan dan perseteruan yang biasa terjadi di antara anak-anak.

Selain hal-hal menguntungkan di atas, kami pun dituntut untuk lebih bersabar dalam menjalani proses kegiatan-kegiatan tersebut. Karena terkadang pekerjaan menjadi lebih lama selesai saat anak terus bertanya tentang ini dan itu. Pekerjaan juga seringkali malah bertambah saat anak-anak malah terkesan "mengacaukan", karena hasilnya berantakan. Namun tidak jarang, pekerjaan terasa semakin mudah saat anak-anak sudah mulai terampil mengerjakan. Insya Allah semua kesabaran akan berbuah kekayaan hati.
Wallahu 'Alam bishshawab.

#ODOPfor99days
#day65
#repost


Pramuka HS : Banyaak Belajarnya

Sejak Oktober lalu, anak-anak mengikuti kegiatan Pramuka Homeschooling yang digagas oleh keluarga-keluarga HS yang ada di Bandung. Pramuka dari yang saya dengar dan baca mengedukasi anak tentang banyak hal, terutama kaitannya dengan life skill. Hal inilah yang mendorong kami mengenalkan Pramuka pada anak-anak. Ternyata, keinginan tersebut menemui banyak kendala.

Kesulitan pertama yang kami hadapi adalah mencari pembina Pramuka yang waktunya cocok dengan kami. Selanjutnya, muncul ketidakcocokan dengan sang kaka pembina. Penyebabnya kurang dipahaminya orientasi kami oleh sang kaka pembina. Masalah selanjutnya adalah tempat untuk latihan. Karena jarak yang berjauhan, kami berusaha mencari tempat yang nyaman dan bisa menerima kegiatan kami.
Namun, kendala-kendala tersebut tidak lantas membuat kami menyerah. Tekad untuk melakukan yang terbaik bagi anak-anak kami membuat kami banyak belajar melalui kegiatan ini.

Kegiatan ini diorientasikan sebagai ajang bersilaturahmi yang tidak kami sia2kan. Berbagai ide tentang muatan kegiatan pun kami coba ramu. Sehingga, kegiatan Pramuka ini menjadi kegiatan plus-plus. Karena selain materi Kepramukaan, ada juga materi tentang Lingkungan Hidup, Craft, Sains, Hobi, bahkan materi Keagamaan. Semuanya kami ramu sebisa mungkin agar dinikmati bersama oleh semua keluarga.


Alhamdulillah berbagai upaya kami, berbuah antusiasme anak-anak dalam mengikuti kegiatan. Hal ini terlihat betul dalam setiap kegiatan yang mereka lakukan. Semoga, bisa menjadi stimulus agar anak-anak mampu menjadi pembelajar sepanjang hayatnya.