Tampilkan postingan dengan label ira. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ira. Tampilkan semua postingan

Senin, 04 Januari 2016

Persahabatan Tiga Gadis

Ira termasuk tipe anak yang pilih-pilih teman dan tidak gampang akrab. Jika memasuki situasi dan lingkungan baru, dia membutuhkan waktu lebih lama untuk mencair dan beradaptasi. Namun, karakternya yang perfek dan seringkali memperhatikan detil membuatnya memiliki sifat penyayang dan perhatian. Dengan sifat tersebut, Ira sering berperan menjadi pengasuh untuk adik-adik kecil bila ikut dalam acara-acara ummi.

Meskipun cenderung sulit mencair, namun tidak berarti Ira tidak punya sahabat. Di Usianya yang menjelang 8 tahun, dia sudah mulai belajar membuka hubungan yang lebih erat dengan teman sebaya. Alhamdulillah kegiatan belajar di Rumah Tahfidz Anak (RTA) Nur Madinah memberi peluang bagi Ira untuk belajar memiliki sahabat.


Adalah Aina putri teh Deris Ristiana, pemilik Rumah Origami dan Ilma putri teh Nur'aini yang sama-sama menjadi santri RTA Nur Madinah. Bertiga dengan Ira menjalin sebuah persahabatan. Mereka suka berbagi bekal makanan, saling tukar cerita keseharian, juga playdate bareng. Foto di bawah adalah salah satu kegiatan playdate mereka saat di rumah Aina.


Sebelum belajar bareng di RTA, sebenarnya mereka sudah saling kenal karena kami, ibu mereka sering bertemu dalam kegiatan-kegiatan IIP maupun kegiatan homeschooling. Namun, awalnya mereka tidak intens berinteraksi. Setelah sering bertemu dan belajar bersama di RTA, mereka pun menjadi tiga sahabat yang sangat erat. Bahkan, kini konformitas mulai muncul dalam persahabatan mereka. Salah satu contohnya saat rihlah dua minggu yang lalu. Karena Ira tidak ditemani ummi yang harus menjaga bayi, maka Aina dan Ilma pun ikut-ikutan tidak ingin ditemani ibunya. Ira dan Ilma pun sekarang tertarik ikut Pramuka HS, karena Aina ikut. Padahal sebelumnya keduanya tidak mau ikut.


Bagi kami persahabatan Ira ini merupakan bagian dari pembelajaran penting bagi kehidupan Ira. Karena dari persahabatan ini Ira belajar banyak tentang empati, toleransi, kompromi, serta kecakapan-kecakapan sosial lainnya. Selain itu persahabatan ini adalah sarana pembelajaran kemandirian serta pendewasaan Ira dalam bersikap dan bertindak.


Barakallah fikun anak-anakku..

#ODOPfor99days #day2

Senin, 17 Februari 2014

Ira Makan Sendiri

Melatih kemandirian anak merupakan salah satu materi di program "Bunda Sayang" Institut Ibu Profesional (IIP). Dalam penyampaian materi Ibu Septi menyatakan bahwa anak pada dasarnya sudah bisa dilatih makan sendiri sejak usia 1 tahun. Setelah itu, ibu harus membiasakan anak mandiri dengan membiarkan anak menentukan waktu serta jenis makanannya sendiri.

Hal ini merupakan PR besar bagi saya. Terutama pada kedua anak saya yang kecil, Ira (6th) dan Naura (3th). Setelah saya renungkan, kebiasaan saya menyuapi anak-anak, memang lebih banyak disebabkan keengganan saya mengambil resiko. Seperti bercecerannya makanan di lantai, serta tidak habisnya jatah makan anak-anak, sehingga khawatir mereka tidak kenyang. Namun, saya pun menyadari latihan kemandirian terutama makan merupakan latihan dasar bagi keterampilan hidup anak (life skill). Untuk itu maka saya pun bertekad agar anak-anak bisa makan sendiri.

Pada Naura, sebenarnya tidak terlalu banyak kendala. Namun, karena ada banyak kesulitan untuk mengkompromikan aturan tersebut pada Ira kakaknya. Maka saya pun mendahulukan Ira untuk dilatih makan sendiri.

Karakter Ira yang mudah merasa bad mood (bete), cukup menuntut saya untuk sangat bersabar menghadapi tantangan ini. Awalnya Ira menolak keras, bahkan dia mengancam tidak mau makan kalau tidak disuapi. Maka, rayuan pun mulai saya keluarkan. saya berusaha untuk tetap realistis dan tidak gombal dalam merayunya. Saya belum tahu pasti efekfnya, namun berangsur berkat rayuan itu Ira mau makan sendiri.

Tantangan selanjutnya, porsi makannya yang berkurang cukup drastis. Karena biasanya jika disuapi dia bisa makan sambil bermain, bahkan lari-lari, sehingga dia makan dengan lahap. Maka pada saat makan sendiri, dia harus duduk diam untuk makan. Dan hal itu membuatnya kehilangan selera makan. Mau tidak mau hal ini cukup mengganggu pikiran saya. Apalagi dengan seringnya dia mengeluh sakit perut karena asupan makanan yag tidak stabil.

Atau sering juga Ira merengek ingin ditemani makannya serta rengekan-rengekan lain yang cukup mmebuat saya tergoda untuk menyuapinya. Namun, saya berusaha untuk kuat menghadapi tantangan ini. Saya yakin hal ini adalah efek sementara untuk kemudian saya mendapatkan efek yang lebih manfaat yaitu kemandiriannya.

Hingga saat ini, walau pola makannya belum stabil karena perubahan kebiasaan tersebut. Namun, saya yakin Ira bisa menjadi anak madiri ydan bisa menemukan pola makannya sendiri. Aamiin.

#ODOPfor99days
#day80
#repost