Tampilkan postingan dengan label stimulasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label stimulasi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 20 Mei 2016

Reading Aloud (Part 2)

Tantangan Reading Aloud
Tidak ada waktu khusus yang paling tepat untuk melakukan reading aloud. Momen yang paling nyaman adalah saat anak meminta. Dan itu bisa kapan saja, bahkan saat kita sibuk dengan pekerjaan kita. Bagi anak-anak yang telah merasakan keasyikan reading aloud, ini akan menjadi senjata untuk meraih perhatian dari kita terutama ketika kita sibuk dengan urusan kita dan anak cenderung terabaikan. Butuh stok kesabaran yang tinggi ketika kita menghadapi kondisi ini. Jika kondisinya memungkinkan, lebih baik dahulukan permintaan anak kita. Sehingga, perasaan terabaikan dapat diminimalisir. Perhatikan betul keterlibatan diri kita secara utuh dalam proses ini. Biasanya tidak butuh waktu lama, asal anak merasa bahwa dia juga mendapat perhatian yang sama, maka kita akan bisa kembali pada aktifitas kita dengan nyaman.
Apakah waktu sebelum tidur adalah waktu yang tepat untuk membacakan buku? Bisa, karena pada saat itu anak rileks dan akan lebih mudah memasukkan pesan-pesan yang ingin kita sampaikan melalui buku. Apalagi jika kemudian anak tidur dengan kondisi kepuasaan lahir dan batin, maka pesan yang kita sampaikan akan terbawa dalam memori jangka panjangnya dan menjadi referensi hingga dia tumbuh besar.
Berhati-hatilah saat anak mulai keranjingan dibacakan buku. Karena ini merupakan salah satu tantangan konsistensi bagi orangtuanya. Ketagihan dibacakan buku bukanlah hal yang buruk. Namun, akan menjadi tantangan tersendiri bagi konsistensi kita sebagai orangtua. Apalagi jika buku yang ingin dibacakan adalah buku yang sama. Anak-anak memiliki tingkat konsistensi yang lebih baik dibanding orangtuanya. Jangan heran, jika anak akan meminta dibacakan buku yang sama terus menerus. Dia tidak akan merasa bosan, bahkan mungkin kita yang akan jenuh dan merasa “eneg” dengan buku tersebut. Ini adalah salah satu tantangan terberat dalam proses reading aloud.  Jika kondisi ini terjadi, kita bisa mencoba mengalihkan perhatiannya pada buku lain secara perlahan tapi tidak memaksa. Ketertarikan anak terhadap satu buku tertentu merupakan hal yang menarik untuk digali. Menjadi PR bagi orangtuanya untuk menggali dan menemukan ketertarikan itu, sehingga mereka akan lebih mengenal anak-anaknya.
Adakah batas usia untuk anak dibacakan buku? Jawabannya Tidak. Reading aloud tetap dilakukan walau anak sudah bisa membaca sendiri atau bahkan sudah beranjak remaja. Banyak pengalaman beberapa orang teman yang anaknya berusia remaja, ikut nimbrung saat sang Ibu membacakan buku untuk adiknya yang masih balita. Bahkan tidak jarang dia ikut memilih buku mana yang akan dibacakan. Hal ini tidak masalah, karena kemungkinan ada kebutuhan lain yang mereka harapkan melalui proses reading aloud.

Pilihlah Buku Bergizi
Tidak ada ketentuan pasti tentang jenis buku yang harus dibacakan untuk anak. bisa buku apa saja, dan bisa disesuaikan dengan kebutuhan orangtua atau anak. M. Fauzil Adhim dalam bukunya “Membuat Anak Gila Membaca” menekankan pentingnya memilih “Buku Bergizi”. Salah satu cirinya adalah buku yang memiliki struktur penceritaan yang kuat. Karena akan memebrikan pengaruh yang luar biasa bagi hati, jiwa serta pikiran anak. Untuk menanamkan ketauhidan kita tidak perlu menunggu buku khusus anak yang bertemakan hal tersebut, walau kini memang banyak bertebaran. Yang terpenting buku tersebut memiliki pesan yang kuat tidak hanya luarnya tapi juga pesan di dalamnya.
Kemudian Beliau mencontohkan sebuah buku anak dengan judul “Si Kikir”. Tokoh dalam buku tersebut bernama Abidin yang diceritakan memiliki sifat kikir bahkan untuk dirinya sendiri. Abidin merupakan bahasa Arab yang memiliki arti “ahli ibadah”. Sungguh, bertolak belakang nama tokoh dengan isi cerita yang disampaikan. Hal ini sangat tidak baik bagi penanaman nilai-nilai dalam diri anak. Kondisi ini bagaikan sebuah proses demonology, yang salah satu bentuknya antara lain mendekatkan istilah sakral dengan keburukan. Sehingga menganggap bahwa konsep yang ada di balik istilah sakral tersebut merupakan akar dari keburukan.

Tanpa Target
Hal penting lain yang harus ditekankan dalam proses reading aloud adalah tidak ada target khusus. Walaupun, ada banyak stimulasi yang bisa kita lakukan melalui proses reading aloud namun semuanya bukanlah kejadian sulap “abracadabra”. Jika kita mulai mengharapkan target khusus, misalnya anak bisa membaca di usia sekian tahun, maka bersiaplah kecewa.  Anak kita bukan mesin yang bisa diprogram dengan sistematis. Yang terpenting dalam proses reading aloud adalah menciptakan kepuasaan dan kenyamanan baik dalam diri anak maupun orangtua. Harapan-harapan agar anak menjadi sesuatu sebaiknya kita gantungkan hanya kepada Allah dan bukan kepada anak.

Banyak anak yang akhirnya bisa dengan cepat memiliki keterampilan membaca melalui proses ini. Namun, tidak sedikit pula yang memerlukan waktu lebih lama. Setiap anak itu unik, mereka dilahirkan dengan berbagai keistimewaan tersendiri yang membutuhkan uluran cinta serta kasih saying dari orangtuanya agar dapat berkembang maksimal. Jadi, mari kita maksimalkan usaha dan perkuat do’a, sisanya biar Allah yang menentukan. Wallahu ‘alamu bishshawab.

#ODOPfor99days
#day92

Reading Aloud (Part 1)

Seperti yang telah disampaikan dalam tulisan terdahulu, reading aloud atau membacakan buku untuk anak merupakan salah satu metode stimulasi membaca pada anak yang berorientasi pada menumbuhkan kecintaan anak terhadap buku. Reading aloud tidak hanya efektif terhadap buku saja, bahkan juga terhadap Al-Qur’an. Banyak manfaat yang bisa kita petik dengan rutin membacakan al-Qur’an secara nyaring di depan anak sejak dini. Sebut saja Musa, sang Hafidz cilik Juara III Musabaqah Hifdzil Qur’an (MHQ) Internasional di Sharm el-Sheikh Mesir yang menurut pengakuan orangtuanya berawal dari rutinitas orangtuanya membacakan al-Qur’an di depan anak sejak masih dalam kandungan. Kegiatan tersebut awalnya dijadikan sarana stimulasi untuk anak mereka agar mencintai al-Qur’an. Ternyata, nilai plus lain yang mereka dapatkan adalah Musa bisa menjadi Hafidz di usia 7 tahun.

Stimulasi Indera Pendengaran, Bahasa, dan Kognisi
Reading aloud tidak hanya berfungsi memberikan stimulasi membaca saja. Lebih dari itu ada banyak manfaat lain yang bisa dipetik dari kegiatan ini. Bagi bayi-bayi yang masih berada dalam kandungan, proses reading aloud bisa menjadi sarana untuk memberikan stimulasi indera pendengaran. Apalagi jika berlanjut setelah bayi lahir. Indera pendengaran adalah indera pertama yang berfungsi pada bayi. Dengan stimulasi yang baik, optimalisasi perkembangan indera ini cenderung akan lebih baik. Terutama jika dilakukan oleh orang terdekat, yaitu ibu dan ayahnya. Telah banyak pengalaman membuktikan bahwa membuka komunikasi dengan anak sejak masih dalam kandungan memberikan manfaat besar bagi pertumbuhan dan perkembangan anak. Jika anda kehabisan ide mengajak bayi anda berkomunikasi, anda bisa mencobanya dengan reading aloud.
Stimulasi lain yang bisa dilakukan melalui metode reading aloud adalah stimulasi bahasa. Perkembangan bahasa terkait erat dengan perkembangan kognisi atau cara berpikir. Semakin baik bahasa anak, berarti semakin baik pula pola berpikirnya. Dengan reading aloud, kita bisa memberikan pengayaan kosakata serta istilah. Apalagi bahasa yang digunakan dalam buku cenderung mengikuti pola berpikir runut yang akan membantu anak membentuk pola berpikirnya.  Apakah ini berarti bahasa dalam buku tersebut harus sesuai dengan bahasa Ibu yang diberikan? Jawabannya Tidak. Kita bisa membacakan buku berbahasa apa saja kepada anak, selama kita bisa. Apalagi al-Qur’an yang berbahasa Arab memiliki kemukjizatan tersendiri sehingga bisa dibaca dan dihafal bahkan oleh orang yang tidak paham bahasa Arab.
Saat kami memutuskan menggunakan bahasa Ibu untuk anak-anak adalah bahasa Sunda, sempat terjadi keraguan untuk membacakan buku-buku anak yang berbahasa Indonesia. Namun, kami berpikir lanjutkan saja. Hasilnya, anak tidak mengalami kebingungan bahasa sedikit pun. Otak anak yang masih dalam masa perkembangan, mampu memilah ragam bahasa dengan baik. Bahkan, ini bisa menjadi stimulasi perkembangan bahasanya sehingga anak memiliki banyak referensi bahasa. Dengan otomatis otak anak akan memilah sendiri untuk menemukan kelompok bahasanya.

Sarana Penanaman Iman,Adab, dan Ibadah
Iman, Adab, dan Ibadah merupakan tiga materi dasar yang wajib diajarkan kepada Anak. Salah satu metode efektif yang bisa digunakan oleh orangtua untuk mengajarkan ketiga materi tersebut adalah melalui reading aloud. Terutama dengan membacakan sirah, baik sirah nabawiyah maupun shahabat serta salafus shalih. Nilai keteladanan yang terkandung dalam kisah-kisah tersebut dapat memberikan pengayaan besar terhadap keimanan anak. Apalagi dengan kondisi penurunan kualitas akhlaq pada masa sekarang ini. Salah satu penyebab utamanya adalah hilangnya keteladanan. Dengan rutin membacakan sirah, kita bisa menanamkan figur teladan yang bisa menjadi acuan anak dalam berperilaku.
Tentang ini, kami memiliki pengalaman tersendiri. Saat itu, anak kami yang berusia 7 tahun bermain seperti biasa dengan anak-anak tetangga. Terdengar anak-anak yang lain sedang ramai membicarakan dan menceritakan kehebatan seorang tokoh kartun superhero. Anak kami yang tidak pernah kami izinkan untuk menonton tayangan kartun tersebut akhirnya hanya menjadi pendengar dan tidak bisa menikmati keseruan obrolan. Tiba-tiba, dia pun menyela obrolan teman-temannya. Ternyata, dia bercerita tentang kehebatan Hamzah bin Abdul Muthalib serta Umar bin Khattab. Dia menceritakan bagaimana kaum Quraisy yang asalnya beringas menjadi ketakutan ketika mengetahui keislaman kedua tokoh ini. Awalnya, anak-anak yang lain cenderung tidak perduli dan kembali ke topic sang tokoh kartun. Akhirnya, anak kami tersebut membawa buku sirah tentang Perang Uhud yang biasa dibacakan untuknya. Anak yang lain pun mulai tertarik, dan akhirnya topic obrolan berganti menjadi pemaparan anak kami tentang peperangan-peperangan yang terjadi pada masa Rasulullah SAW.

Pengembangan Kecerdasan Emosi dan Kemandirian
Stimulasi lainnya yang bisa didapatkan dari metode ini adalah pengembangan kecerdasan emosi. Kisah-kisah yang termuat dalam buku memiliki banyak ragam emosi. Jika kita bisa membacakannya dengan intonasi dan mimik muka yang berbeda, maka anak akan belajar tentang jenis emosi tersebut serta cara pengungkapannya. Untuk itu, sebelum membacakan buku untuk anak, akan lebih baik kita membacanya terlebih dahulu serta memahami alur ceritanya. Untuk kisah-kisah inspiratif tekankan suara kita pada pesan inti yang ingin disampaikan. Bawa anak pada suasana yang terjadi dalam kisah tersebut. Kemampuan mengenal jenis emosi serta cara pengungkapannya, akan memudahkan anak untuk mengungkapkan emosinya serta memudahkan kita untuk membantu anak menangani emosi yang dia alami.
Kemampuan ini juga dapat menumbuhkan sikap empati, anak akan mampu memahami perasaan orang lain dan tidak mudah berburuk sangka. Apakah kemampuan ini bisa didapatkan dengan mudah? Jawabannya Tidak. Ini adalah tujuan jangka panjang yang kita harapkan dapat tumbuh dalam diri anak. Dalam proses stimulasi anak, kita jangan pernah terburu-buru ingin melihat hasilnya. Karena pendidikan itu proses yang panjang dan lama.
Reading aloud juga bisa menjadi sarana melatih kemandirian anak. Dengan banyaknya ragam buku anak hari ini, kita memiliki kesempatan untuk memilahnya sesuai dengan kebutuhan kita. Sesuaikan dengan target kemandirian yang sedang kita latihkan kepada anak-anak. Jika kita melakukannya melalui buku, anak biasanya akan merasa diarahkan dan bukan digurui.

Dalam menjalani stimulasi apa pun untuk anak-anak, hal penting yang harus kita perhatikan adalah menciptakan kedekatan. Jadikan kegiatan reading aloud sarana penting untuk menumbuhkan kedekatan serta menciptakan kehangatan antara orangtua dan anak (bonding). Jika bonding sudah tumbuh, maka stimulasi apa pun yang kita lakukan kepada anak akan diterima dengan baik. Kedekatan hubungan orangtua dan anak merupakan hal penting yang sangat diperhatikan oleh Rasulullah SAW. Untuk itu jadikan kegiatan reading aloud adalah kegiatan bersama yang rutin dilakukan. Bukan hanya ibu, tapi ayah pun penting ikut terlibat dalam proses ini. 

#ODOPfor99days
#day91

Kamis, 21 Januari 2016

Stimulasi Membaca dan Menulis Pada Anak (Part 3)

Tahapan Belajar Membaca
Pengalaman pra membaca yang baik akan menumbuhkan minat dan mengembangkan reading readiness pada anak. Karena anak-anak itu unik, maka tumbuhnya kesiapan itu berbeda-beda. Jangan mengahalang-halangi anak belajar membaca jika kesiapan itu ternyata muncul sebelum dia berusia 5 tahun. Juga jangan merasa khawatir, jika kesiapan itu ternyata belum muncul padahal anak sudah berusia 7 tahun. Lakukan terus kegiatan-kegiatan memberikan pengalaman pra membaca tanpa target usia.
Berdasarkan pengalaman kami, pemberian pengalaman pra membaca selanjutnya mendorong anak memiliki kemampuan membaca melalui tahapan-tahapan sebagai berikut:
1. Membaca gambar
Anak-anak yang terbiasa melihat label tulisan pada benda-benda di sekitarnya (baca: Immersion) selanjutnya akan mulai membaca tulisan pada setiap gambar atau benda yang mereka kenal. Jadikan kesenangan ini sebagai sebuah permainan.
Ajak anak-anak bermain membaca kemasan-kemasan makanan atau minuman yang mereka kenal saat mereka belum bisa membaca. Minta mereka untuk membacanya. Pasti mereka akan mengatakan sesuai dengan nama yang mereka kenal. Contohnya, saat anak kami diminta membaca tulisan di sepeda motor ayahnya dan tulisan di sepeda motor kakeknya. Maka dia akan menjawab yang satu "motor ayah" dan yang satu lagi "motor aki". Padahal tulisan di kedua sepeda motor itu sama, yaitu HONDA.
Ini menunjukkan tahapan membaca pada anak itu diawali dengan membaca gambar/benda. Saat itu dorong anak untuk membaca tulisan pada gambar-gambar atau benda-benda di sekitarnya. Hal ini untuk menumbuhkan kepercayaan dirinya. Dan ini kami sebut tahapan pertama kemampuan membaca pada anak-anak.
2. Mengenal huruf
Tahap selanjutnya adalah mengenal huruf. Anak-anak akan mulai bertanya tentang huruf apa ini, atau dibaca apa ini saat mereka menemukan tulisan atau buku yang mereka sukai. Ini merupakan tahapan selanjutnya pada kemampuan membaca anak-anak. Untuk itu, luangkan waktu untuk menjawab langsung pertanyaan anak tersebut. Karena itu merupakan moment AHA yang akan terus menumbuhkan minat serta kesiapan anak belajar membaca.
3. Membaca suku kata
Banyak ahli yang mengatakan bahwa sebaiknya mengajarkan membaca pada anak tidak dimulai dengan mengenalkan huruf, tapi dimulai dengan mengenalkan suku kata. Namun, berbeda dengan pendapat tersebut, pada anak-anak kami tahapan belajar membaca semuanya dimulai dengan mengenal huruf terlebih dahulu. Menurut hemat kami hal ini tidak mengapa selama itu tidak dikenalkan secara formal kepada anak.
4. Membaca buku
Setelah mengenal cara membaca suku kata, anak-anak akan langsung memulai petualangan belajar membacanya melalui buku. Biasanya saat anak-anak mulai mengenal suku kata, kami menyediakan buku belajar membaca seperti yang ada di sekolah-sekolah formal. Namun, belum juga buku itu selesai dipelajari anak-anak akan langsung mempraktekkan pengetahuannya melalui buku kesukaannya. Hingga mereka lancar membaca, buku belajar membaca itu tidak pernah dipelajari hingga selesai.
#ODOPfor99days #day14

Rabu, 20 Januari 2016

Stimulasi Membaca dan Menulis Pada Anak (Part 2)

Pre Reading Experience
Pengalaman pra membaca (pre reading experience) adalah upaya orangtua atau guru untuk mengajak anak menikmati dunia membaca sehingga tumbuh ketertarikan akan membaca dalam diri anak. Upaya ini dapat dilakukan sedini mungkin, bahkan sejak anak masih bayi. Ada beberapa kegiatan yang dapat dilakukan dalam pre reading experience.
1. Reading aloud
Yaitu kegiatan membacakan buku untuk anak. Kegiatan ini dilakukan dengan tujuan anak merasa senang dan tertarik dengan buku. Sehingga saat mereka sudah bisa membaca sendiri, buku menjadi sahabat mereka.
Sebaiknya kegiatan ini dilakukan secara konsisten setiap hari. Ciptakan suasana menyenangkan saat membaca buku dengan intonasi dan gaya membaca yang baik.
2. Flashcard
Yaitu mengenalkan anak dengan dunia membaca melalui kartu-kartu kata yang disusun dengan huruf besar dan warna mencolok. Kartu-kartu tersebut berisi kata-kata sehari-hari yang akrab di telinga anak-anak.
Seperti namanya, kartu-kartu ini diperlihatkan kepada anak-anak hanya dalam waktu 1 detik. Dilakukan secara konsisten dan lebih dini akan lebih baik hasilnya.
3. Immersion
Yaitu metode yang membawa anak masuk dalam dunia tulisan. Metode ini dilakukan dengan menuliskan nama benda-benda juga tempat di sekitar anak dan menempelkannya pada benda atau tempat tersebut. Metode ini bertujuan agar anak terpapar dengan tulisan di sekitarnya dan terbiasa untuk membaca.
4. Membuat perpustakaan di rumah
Siapkan rak khusus untuk buku yang disimpan di satu tempat khusus di dalam rumah. Kita sebut ruangan tersebut perpustakaan. Rancang ruanganna menjadi menarik dan menyenangkan untuk anak.
5. Jalan-jalan ke toko buku atau perpustakaan
Jadikan salah satu kegiatan liburan atau family time di keluarga kita adalah jalan-jalan ke toko buku atau perpustakaan. Jadikan juga membeli buku atau jalan-jalan ke perpustakaan adalah salah satu hadiah yang bisa didapatkan anak-anak saat berhasil melakukan sebuah kebaikan.
6. Menempel poster 
Jadikan poster huruf, suku kata atau poster lainnya yang ada kaitannya dengan belajar membaca sebagai salah satu hiasan dinding di rumah. Tempelkan poster-poster tersebut di tempat yang terjangkau oleh penglihatan anak-anak.

Metode serta kegiatan apa pun yang dilakukan, ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan dalam memberikan pengalaman pra membaca, yaitu :
1. Sabar dan istiqomah
Dua kata ini merupakan kunci utama dalam upaya mendidik anak, termasuk dalam memberikan pengalaman pra membaca. Sikap sabar salah satunya ditandai dengan sikap pantang menyerah dan tidak terburu-buru ingin mendapatkan hasil. Karena setiap anak itu unik. Mereka memiliki ritme dan pola yang berbeda satu sama lain. Jangan pernah mengatakan bahwa metode yang kita lakukan tidak berhasil. Karena tugas kita adalah berusaha, sedangkan hasilnya ada di tangan Allah.
2. Menyenangkan
Dunia anak adalah dunia bermain. Ciptakan kegiatan-kegiatan dalam pengalaman pra membaca ini menjadi seasyik bermain. Sehingga tumbuh minat dan ketertarikan anak akan dunia membaca
3. Menghadirkan diri secara utuh
Saat memberikan stimulasi pada anak, hadirkan diri dan pikiran kita utuh bersamanya. Jangan simpan pikiran kita pada pekerjaan yang belum selesai, atau pesan yang belum dibalas. Karena kehadiran kita secara utuh akan besar pengaruhnya pada proses stimulasi yang kita lakukan, walau bentuknya sederhana.
4. Menjadi teladan
Mendidik paling efektif jika dilakukan melalui teladan. Berikan contoh yang baik dengan secara demonstratif meluangkan waktu membaca buku di depan anak dengan penuh kesenangan.
Bersambung...
#ODOPfor99days #day13

Selasa, 19 Januari 2016

Stimulasi Membaca dan Menulis Pada Anak (Part 1)

Orientasi Belajar Membaca
Membaca dan menulis merupakan dua kemampuan dasar di samping berhitung yang harus dimiliki seorang anak. Kemampuan membaca dan menulis merupakan salah satu modalitas dalam belajar. Untuk itu dua jenis kemampuan ini seringkali menjadi perhatian orangtua yang memiliki anak usia pra sekolah. Banyak di antara mereka berharap agar di usia sekolah anaknya sudah memiliki dua keterampilan ini.
Perdebatan mengenai kapan sebaiknya mengajarkan membaca dan menulis pada anak, hingga hari ini belum juga usai. Banyak para ahli menyatakan dampak negatif mengajarkan membaca dan menulis secara formal pada anak usia pra-sekolah. Namun, seolah tidak menggubris pendapat tersebut. Hingga hari ini masih banyak sekali TK-TK dan yang sejenisnya melakukan hal itu. Alasannya, tuntutan pra syarat masuk sekolah dasar.
Terlepas dari perdebatan tersebut, jika membaca buku "Membuat Anak Gila Membaca"-nya Ust. M. Fauzil Adhim, kita akan digiring pada pemahaman bahwa orientasi utama dari mengajarkan membaca pada anak bukan sampai pada BISA, tapi pada SUKA bahkan GILA membaca. Karena membaca menurut beliau bukan hanya sarana menggali informasi. Namun, merupakan sarana utama untuk mengenal Rabb. Sebagaimana dinyatakan dalam wahyu pertama yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW.
"Bacalah! Dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakan. Bacalah! Dan Tuhanmu yang Maha Mulia..." (QS al-'Alaq ayat 1-2)
Beliau menegaskan bahwa ayat ini diturunkan pada zaman Jahiliyyah. Dimana orang-orang di zaman itu bukanlah orang yang tidak memiliki ilmu. Namun, mereka tidak mampu mengeratkan keilmuannya dengan keimanan. Sehingga turunnya ayat ini, mewajibkan kita membaca dan mencari ilmu dengan tujuan mengokohkan bangunan iman dalam dada kita.
Dengan munculnya berbagai metode, strategi serta sarana belajar membaca. Kini banyak anak yang bisa membaca pada usia dini. Lantas, apakah saat mereka bisa membaca, mereka pun suka membaca? Jawabannya belum tentu. Ketika itu terjadi apakah tujuan membaca sebagai modal belajar dan mencari ilmu menjadi tercapai?
Jika pembelajaran membaca hanya diorientasikan pada bisa membaca. Akhirnya anak-anak pun digegas untuk bisa membaca. Hasilnya setengah matang, bahkan mentah. Mereka mungkin bisa membaca di usia dini, namun tak sedikit diantara mereka yang akhirnya tidak suka bahkan benci dengan dunia membaca.
Dalam teori perkembangan dikenal sebuah formula HET yang merupakan singkatan dari Heredity (bawaan), Environment (lingkungan), dan Time (kematangan). Formula ini menjelaskan bahwa perkembangan itu dipengaruhi oleh tiga hal, yaitu pengaruh bawaan yang diturunkan secara genetik,  pengaruh lingkungan tempat individu itu berkembang, serta pengaruh kematangan baik fisik maupun psikis. Ketiga faktor tersebut memiliki peran yang seimbang dalam menentukan pola perkembangan seseorang.
Demikian pula pada belajar membaca. Selain kecerdasan sebagai faktor H dan pembelajaran sebagai faktor E, dibutuhkan pula kesiapan sebagai faktor T. Kesiapan  membaca (reading readiness) akan memunculkan minat dan ketertarikan anak untuk belajar membaca. Untuk menumbuhkannya, maka sepatutnya yang dilakukan pada anak usia dini bukanlah belajar membaca, tapi memberikan pengalaman pra membaca (pre reading experience)
Bersambung....
#ODOPfor99days #day12