Jumat, 07 Februari 2014

Nikmati Prosesnya...

Dalam Homeschooling (HS) kita akan mendorong anak kita agar dapat menjadi pembelajar mandiri. Mereka akan menumbuhkan belajar sebagai suatu kebutuhan, bukan keharusan. Hal ini kemudian menjadi motivasi bagi saya untuk yakin pada jalur HS. Karena tantangan masa depan membutuhkan orang-orang yang mampu menggali informasi, mengolah dan mewujudkannya sebagai sebuah produk dan bukan sekedar menerima dan menelannya mentah-mentah.

Harapan saya untuk mewujudkan anak menjadi pembelajar mandiri seringkali membuat saya harus menelan kekecewaan. Saat proses belajar tidak berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Kekecewaan demi kekecewaan terus saya rasakan, manakala anak saya semakin menghindari proses belajar yang saya harapkan karena pada akhirnya saya cenderung menekan dan memaksa. Saat mengevaluasi, saya sering berpikir lantas apa bedanya saya dengan sekolah? Yang justru telah membuat anak saya stres dan memilih untuk keluar.

Setelah berdiskusi dengan sesama HSer, ternyata untuk menjadi pembelajar mandiri dibutuhkan sebuah proses yang panjang. Proses untuk menyiapkan pembelajar mandiri akan membutuhkan banyak waktu dan tenaga. dan hasilnya tidak dapat kita rasakan langsung. Mungkin dibutuhkan waktu beberapa minggu, beberapa bulan, bahkan hingga beberapa tahun.

Dari diskusi saya mencatat bahwa yang terpenting adalah kegiatan yang terus menerus dilakukan dan bertahap. Mulai dari kegiatan-kegiatan mudah dan yang terpenting disukai oleh anak-anak. Tugas kita sebagai orangtua adalah menciptakan budaya belajar dengan menyediakan stimulus yang kaya dan sesuai, menyiapkan ruang yang luas untuk eksplorasi, serta memberikan sistem insentif-disinsentif yang konsisten.

Jika oranglain menyukai mie instan, maka HS-er menyukai proses membuatnya (kutip dari teh Maya A Pujiati). Jika orangtua lain sibuk mencari dan memilih sekolah yang bagus untuk anaknya, maka orangtua HS sibuk menciptakan sendiri 'sekolah' tersebut untuk anaknya. Jadi, karena kita telah memilih HS, maka bersiaplah untuk berlelah-lelah, berpeluh-peluh, bahkan mungkin hingga berdarah-darah...

Namun seperti kata pepatah, berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Seperti yang dikatakan Mba Lala, hari ini kita mungkin merasa direpotkan dengan anak yang cenderung tergantung kepada kita, tapi suatu hari nanti kita akan merasa sedih saat anak2 seolah tak membutuhkan kita lagi (kira2 begitu... maaf kalau salah, he...).

Semoga inspirasi ini dapat memicu saya untuk tetap semangat di jalur HS, dan mampu menikmati kekecewaan tanpa larut di dalamnya. Seperti prinsip 3M, Mulai dari diri sendiri, Mulai dari yang terkecil, dan Mulai saat ini juga. Allahu Akbar...!!

#ODOPfor99days
#day44
#repost

Sabtu, 14 Desember 2013

Belajar Menulis Itu...

Salah satu keterampilan dasar yang selayaknya dimiliki oleh anak usia 7 tahun menurut Kurikulum Pendidikan Nasional adalah keterampilan menulis. Bahkan, di beberapa sekolah dasar, keterampilan ini menjadi salah satu pra syarat diterimanya seorang anak untuk masuk sekolah tersebut. Lebih dahsyat lagi, di tingkat Sekolah Dasar secara rutin dilakukan lomba Calistung (Baca, Tulis, Hitung) untuk kelas rendah. Di mana tes yang diberikan dalam lomba tersebut salah satunya adalah anak diminta menulis rapih dengan durasi waktu tertentu sebanyak satu halaman penuh.

Tuntutan untuk duduk diam dan menulis huruf per huruf dengan rapi merupakan salah satu hal yang membuat anak kami menghindar dari sekolah. Ketidaksiapannya untuk duduk diam dalam jangka waktu tertentu sambil mengerjakan tugas cukup dirasa membebani anak kami. Dan kasus ini banyak dialami oleh siswa-siswa sekolah dasar hari ini. Kondisi ini pula yang seringkali menjadi "perseteruan" antara ibu dan anak. Dimana sang ibu menuntut anaknya untuk mau mengikuti instruksi guru, sedangkan anak merasa tertekan dengan tuntutan tersebut.

Menyikapi kondisi tersebut, membuat kami mencoba menyusun ulang konsep belajar menulis bagi anak-anak. Pola pembelajaran menulis yang terjadi di sekolah-sekolah dasar- terutama yang konvensional- nyata-nyata banyak menimbulkan ekses negatif pada diri anak. Sehingga, kami berkeyakinan bahwa belajar menulis, bukan hanya sekedar belajar menuliskan huruf dan kata, serta memperindah bentuk tulisannya. Namun, lebih pada pembelajaran untuk mengungkapkan ide dan gagasan dalam bentuk tulisan.

Tulisan sebagai sarana komunikasi memiliki peran penting dalam kehidupan manusia. Ide yang diungkapkan secara lisan, seringkali mudah terlupakan karena tidak terdokumentasikan. Berbeda dengan ide dan gagasan yang dituangkan dalam bentuk tulisan. Mereka akan abadi, karena terdokumentasikan. Orang bisa melihat kembali ide tersebut di lain waktu bahkan bisa menjadi referensi bagi orang-orang yang membutuhkan ide tersebut.

Dengan keyakinan inilah, kami mulai menanamkan kepada anak-anak kami untuk berani menuliskan ide dan gagasan sesederhana apa pun itu. Tak ada kritikan atas bentuk tulisan maupun kerapihannya. Apalagi dengan teknologi hari ini, menulis tidak lagi menggunakan media alat tulis. Meskipun media alat tulis tetap penting sebagai bagian dari stimulasi motorik halus mereka.

Anak-anak biasanya memulai belajar menulis dengan menuliskan kembali buku cerita yang sudah mereka baca. Selanjutnya mereka belajar menuliskan pengalaman, setelah itu beralih pada menuliskan imajinasi dan pemikiran mereka. Memang belum banyak yang kami lakukan, namun setidaknya dorongan yang kami lakukan cukup membuat anak-anak senang dengan dunia tulis menulis.

Salah satu hasil karya menulis Ira, yang hari ini berusia 6 tahun mulai dpublikasikan di sini. Atau juga hasil tulisan Bani, 9 tahun yang juga dipublikasikan di sini.

Kini, di usia 8 tahun Ira memiliki blog sendiri sebagai sarana menyalurkan idenya dalam dunia tulis menulis

#ODOPfor99days
#day42
#repost

Selasa, 10 Desember 2013

Melibatkan Anak Dalam Kegiatan Sehari-hari

Proses belajar Homeschooling yang paling mudah dan murah adalah melibatkan anak-anak dalam kegiatan orangtua. Ada banyak keuntungan yang didapat dengan melibatkan anak-anak dalam kegiatan kita. Salah satunya adalah menanamkan rasa tanggungjawab dan memupuk kemandirian. Yang biasa kami lakukan di rumah adalah dengan melibatkan mereka dalam aktifitas merapikan rumah. Mulai dari merapikan kamar, merapikan mainan, rak buku,dan pakaian.

Kami pun melibatkan mereka dalam kegiatan mencuci pakaian, mencuci piring, mengepel lantai, mencuci karpet, serta kegiatan mengurus tanaman, walaupun untuk tanam-menanam kami pun orangtuanya baru belajar. Namun dengan melibatkan mereka dalam kegiatan tersebut, akhirnya kami pun sama-sama belajar. Alur belajar menjadi sebuah diskusi dan saling berbagi, bukan proses belajar yang menggurui dan merasa paling tahu.

Selain kegiatan rumah tangga, anak-anak juga dilibatkan dalam kegiatan yang berkaitan dengan pekerjaan orangtua. Seperti yang kami lakukan saat terjadi gerhana bulan serta gerhana matahari Mei lalu. Sebagai pengurus di Mesjid tempat kami tinggal, kami biasa membuat surat edaran tentang pelaksanaan sunnah-sunnah seputar gerhana. Kami mengkoordinir kegiatan shalat Kusuf dan Khusuf serta penampungan shadaqah yang dilakukan saat terjadi gerhana.

Ada banyak hal yang dapat kami pelajari melalui kegiatan-kegiatan tersebut, di antaranya :
1. Pembelajaran kemandirian dan penanaman rasa tanggungjawab
Mandiri dan tanggungjawab dapat tumbuh dengan baik jika diawali dengan kepercayaan. Saat orangtua memberikan kepercayaan kepada anak untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan orangtua, saat itulah kepercayaan tersebut tumbuh. Kepercayaan yang ditanamkan orangtua dalam diri anak kemudian menumbuhkan rasa percaya diri serta tanggungjawab yang akhirnya tumbuh dalam kemandirian anak.

Namun, hal tersebut tidak akan tumbuh jika proses anak terlibat dalam kegiatan orangtua diawali dengan paksaan, perintah, bahkan ancaman. Sebaiknya orangtua mengawali proses tersebut dengan ajakan dan kepercayaan penuh terhadap anak. Kepercayaan penuh ditandai dengan minimnya instruksi dan koreksi dan memaksimalkan proses memberi teladan serta dorongan.

2. Eksplorasi berbagai ilmu pengetahuan baru
Kegiatan rumah tangga ataupun kegiatan lainnya merupakan sarana yang paling efektif untuk mengeksplorasi rasa ingin tahu anak. Pada proses kegiatan-kegiatan tersebut anak akan banyak memberikan pertanyaan serta tanggapan. Akhirnya diskusi pun tak dapat terhindarkan. Hal ini membuat anak bukan hanya memperoleh keterampilan namun juga pengetahuan. Proses pembelajaran yang terjadi pun bersifat mengalir, tidak formal, dan tidak terkesan menggurui namun sarat tetap makna karena belajar dilakukan melalui kereleaan dan bersifat menyenangkan untuk anak-anak.

3. Mendekatkan hubungan orangtua-anak serta antar saudara
Kegiatan bersama menuntut anak untuk belajar bekerjasama, saling menghargai, saling memahami, dan saling membantu. Sang kakak akan belajar untuk bersabar saat adiknya terkesan mengganggu pekerjaannya. Dan sang adik belajar untuk menghargai hasil pekerjaan kakaknya. Sang kakak juga belajar menjadi tutor untuk adiknya. Keceriaan yang nampak dalam berkegiatan bersama membuat anak-anak tampak lebih dekat dan akrab. Bagi kami, hal ini cukup mampu mereduksi persaingan dan perseteruan yang biasa terjadi di antara anak-anak.

Selain hal-hal menguntungkan di atas, kami pun dituntut untuk lebih bersabar dalam menjalani proses kegiatan-kegiatan tersebut. Karena terkadang pekerjaan menjadi lebih lama selesai saat anak terus bertanya tentang ini dan itu. Pekerjaan juga seringkali malah bertambah saat anak-anak malah terkesan "mengacaukan", karena hasilnya berantakan. Namun tidak jarang, pekerjaan terasa semakin mudah saat anak-anak sudah mulai terampil mengerjakan. Insya Allah semua kesabaran akan berbuah kekayaan hati.
Wallahu 'Alam bishshawab.

#ODOPfor99days
#day65
#repost


Pramuka HS : Banyaak Belajarnya

Sejak Oktober lalu, anak-anak mengikuti kegiatan Pramuka Homeschooling yang digagas oleh keluarga-keluarga HS yang ada di Bandung. Pramuka dari yang saya dengar dan baca mengedukasi anak tentang banyak hal, terutama kaitannya dengan life skill. Hal inilah yang mendorong kami mengenalkan Pramuka pada anak-anak. Ternyata, keinginan tersebut menemui banyak kendala.

Kesulitan pertama yang kami hadapi adalah mencari pembina Pramuka yang waktunya cocok dengan kami. Selanjutnya, muncul ketidakcocokan dengan sang kaka pembina. Penyebabnya kurang dipahaminya orientasi kami oleh sang kaka pembina. Masalah selanjutnya adalah tempat untuk latihan. Karena jarak yang berjauhan, kami berusaha mencari tempat yang nyaman dan bisa menerima kegiatan kami.
Namun, kendala-kendala tersebut tidak lantas membuat kami menyerah. Tekad untuk melakukan yang terbaik bagi anak-anak kami membuat kami banyak belajar melalui kegiatan ini.

Kegiatan ini diorientasikan sebagai ajang bersilaturahmi yang tidak kami sia2kan. Berbagai ide tentang muatan kegiatan pun kami coba ramu. Sehingga, kegiatan Pramuka ini menjadi kegiatan plus-plus. Karena selain materi Kepramukaan, ada juga materi tentang Lingkungan Hidup, Craft, Sains, Hobi, bahkan materi Keagamaan. Semuanya kami ramu sebisa mungkin agar dinikmati bersama oleh semua keluarga.


Alhamdulillah berbagai upaya kami, berbuah antusiasme anak-anak dalam mengikuti kegiatan. Hal ini terlihat betul dalam setiap kegiatan yang mereka lakukan. Semoga, bisa menjadi stimulus agar anak-anak mampu menjadi pembelajar sepanjang hayatnya.

Kamis, 12 September 2013

Menabung Untuk Qurban

Setiap ada kesempatan untuk melakukan ibadah qurban, -tidak seperti kebanyakan orang- kami tidak pernah menisbatkan nama anak-anak kami sebagai qurbani. Hal ini cukup berdampak positif. Sejak dua tahun lalu, Bani mengutarakan ingin melaksanakan ibadah qurban. Motif awalnya karna ingin namanya terpampang dalam daftar qurbani seperti nama teman-temannya.

Keinginan tersebut memberi peluang bagi kami untuk memberikan pemahaman tentang ibadah qurban kepada anak-anak. Dan pemahaman tersebut ternyata semakin meneguhkan keinginan mereka untuk berqurban. Maka mulailah Bani menyisihkan uang jajannya 1000 rupiah setiap hari untuk celengan qurban. Dia pun mengajak serta adiknya. Targetnya mereka ingin berqurban di tahun ini.

Karena tidak setiap hari mereka diberi uang jajan, tentu saja celengannya pun tidak setiap hari terisi. Kini tabungan mereka hampir mencapai 2 juta rupiah. Jumlah uang yang tidak akan cukup untuk qurban berdua. Maka ayah pun berjanji akan berusaha menambah kekurangannya, walaupun jumlahnya cukup banyak.

Mudah2an keinginan anak-anak tercapai dan menjadi jalan bagi kesholehan mereka. Aamien.

Jumat, 06 September 2013

Dinamisasi Jadwal

Sebagai turunan dari program yang telah kami buat. Kami pun menyusun jadwal kegiatan harian. Jadwal awalnya dibuat dengan rinci dari mulai bangun tidur hingga tidur lagi. Tuntutan utama dari tersusunnya jadwal adalah konsistensi diri, yang masih sulit untuk dibangun.

Kondisi-kondisi yang tidak tercover dalam jadwal seringkali menyebabkan melonggarnya kepatuhan terhadap jadwal yang telah disusun. Kondisi itu seperti: jadwal pengajian umi yang insidental, ayah yang libur, si kecil sakit, umi yang tidak enak badan, dan sebagainya. Hal ini berdampak negatif pada pembentukan konsistensi pada diri anak. Mereka menjadi seenaknya membuat jadwal dan seenaknya pula melanggar jadwal yang telah mereka susun.

Kondisi tersebut memberikan pelajaran berarti bagi kami untuk dinamis dalam menyusun jadwal kegiatan. Bagi kami jadwal kegiatan tetap penting sebagai panduan kegiatan sehari-hari. Namun, penyusunannna dibuat fleksibel dan tidak kaku. Sehingga saat terjadi kondisi-kondisi yang tidak diprediksi sebelumnya, kami tidak kesulitan untuk menyesuaikan diri. Oleh karena itu, jangan heran jika seminggu sekali kami akan merubah jadwal aktifitas kami. Karena manusia sebagai makhluk yang dinamis perlu terus berkembang dan berubah. Insya Allah semuanya adalah bagian dari proses belajar kami untuk memahami, mengasuh, dan membimbing mereka menjadi pribadi yang taqwa. Aamien.

Kamis, 05 September 2013

Program Baru Homeschooling

Selesai Libur Lebaran kemarin, saatnya anak-anak mulai melakukan kembali aktifitas yang terstruktur. Setelah sebelumnya mereka melakukan eksplorasi mandiri tanpa jadwal. Meskipun demikian, kegiatan membaca, menghafal, dan mengkaji al-Qur'an tetap dilakukan. Karena bagi kami kegiatan ini adalah kegiatan wajib yang tidak ada hari liburnya.

Program baru pun kami buat sebagai bahan acuan kami menjalankan aktifitas sehari-hari bersama anak-anak. Program yang kami susun memiliki prioritas pada pembentukan akhlaq mahmudah. Adapun kegiatan yang bersifat akademik menjadi prioritas selanjutnya.

Program baru tersebut kami susun dengan rincian sebagai berikut,
PROGRAM
KEGIATAN
WAKTU
BENTUK KEGIATAN
Sahabat AL-QUR'AN
Tilawah bersama
Ba'da Shubuh
Membaca al-Qur'an bersama-sama secara bergiliran
Terjemah dan tafsir
Ba'da tilawah
Membacakan terjemah ayat yang telah dibaca dan menggali nilai-nilai ruhiyah di dalamnya
Hafalan Qur'an
Ba'da Ashar
Menghafalkan ayat-ayat al-Qur'an minimal satu ayat perhari
Muqimush Shalat
Shalat berjama'ah
Seminggu sekali
Shalat maghrib berjama'ah di rumah setiap hari ahad yang dilanjutkan dengan review kegiatan mingguan.
Kemandirian dan Pengendalian Emosi
Buku Bintang
Sebelum tidur
Melatih dua jenis keterampilan (life skill) tiap minggunya.
Kalimat Positif

Menempelkan kalimat-kalimat positif sebagai motivator dalam beramal shalih bagi seluruh anggota keluarga
Eksplorasi Minat
Kegiatan bersama
Jam 07.30-10.00
Kegiatan terstruktur yang dilakukan bersama orangtua, seperti: Percobaan sains, game matematika, wisata edukasi, craft, bedah buku dsb

Kegiatan Mandiri
Jam 13.00-14.00
Kegiatan yang dilakukan secara mandiri tergantung minat masing-masing anak.
Pengenalan Bahasa Asing
Hari Bahasa
Rabu dan Kamis
Rabu: Bahasa Arab, dan Kamis: Bahasa Inggris