Kamis, 31 Maret 2016

Berkunjung ke Mesjid al-Irsyad, Bandung

Sumber foto id.wikipedia.org

Acara playdate anak usia dini IIP Bandung Rabu kemarin berlanjut dengan istirahat di Mesjid Al-Irsyad Satya-Kota Baru Parahyangan. Mesjid fenomenal hasil karya arsitek terbaik Indonesia, Ridwan Kamil yang kini menjabat Walikota Bandung itu pernah mendapatkan penghargaan bergengsi tingkat dunia. National Frame Building Association memilih masjid unik ini, menjadi  satu-satunya bangunan tempat peribadatan di Asia yang masuk 5 besar Building of The Year 2010.

Mesjid ini masih berada di dalam komplek Kota Baru Parahyangan dan bersatu dengan bangunan Sekolah berskala Internasional yaitu Al-Irsyad. Sekolah ini berafiliasi dengan Sekolah al-Irsyad di Singapura sehingga menggunakan kurikulum Internasional dalam sistem pendidikannya.

Keunikan Mesjid ini terlihat dari bentuk bangunan yang tidak berkubah seperti mesjid kebanyakan. Mesjid ini justru dibuat dalam bentuk kubus karena terinspirasi oleh bentuk Ka'bah. Di dalam mesjid tidak ditemukan adanya tiang penyangga, dinding-dinding Mesjid ini dibuat berlubang yang jika dilihat dari kejauhan membentuk tulisan syahadat dengan bentuk huruf Kufi. Sehingga katanya jika di malam hari lampu-lampu Mesjid mulai dinyalakan terlihat seolah memancar sinar dari dalam Mesjid membentuk bacaan syahadat tersebut. Namun, karena kunjungan yang kami lakukan pada siang hari, jadi kami tidak dapat melihat fonemena tersebut.
Sumber foto rinaldimunir.wordpress.com

Keunikan lainnya bagian depan yang menghadap kiblat dibuat terbuka dengan kolam ikan di depannya. Sehingga tempat imam shalat seolah berada di tengah kolam. Di tengah-tengah kolam tersebut terdapat batu besar bertuliskan lafadz Allah dalam tulisan Arab. Lampu-lampu yang tergantung di atap Mesjid berjumlah 99 dengan hiasan tulisan Asmaul Husna.

Mesjid yang dapat menampung hingga 1.500 jama'ah ini terlihat penuh saat kami mulai memasukinya. Karena saat itu sudah masuk waktu shalat Dzuhur dimana siswa Sekolah Al-Irsyad beristirahat untuk shalat Dzuhur. Belum lagi ada beberapa rombongan anak-anak sekolah lain yang sedang berwisata di Bandung juga turut beristirahat di Mesjid itu. Sehingga mesjid penuh sesak dengan jama'ah. Namun, walaupun penuh dan tidak ada pendingin ruangan (AC) di dalam Mesjid, udara tidak terasa gerah. Arsitektur bangunan yang unik membuat Mesjid ini tetap adem walau tanpa AC.

Setelah selesai shalat Dzuhur berjama'ah, siswa-siswa sekolah Al-Irsyad kembali melanjutkan aktifitasnya. Mesjid pun kemudian kosong dan lengang. Kondisi ini memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk bereksplorasi di dalam Mesjid. Tentu saja hal yang paling menarik bagi mereka adalah kolam ikan yang berada tepat di bagian depan Mesjid.

Setelah suasana Mesjid kembali lengang, berdatanganlah para petugas berseragam kuning yang dengan sigap merapikan dan membersihkan kembali Mesjid ini. Sehingga Mesjid tetap terlihat resik dan rapi. Namun saat menuju toilet terlihat antrian yang sangat panjang. Banyak diantara mereka yang mengantri sambil mengeluh. Bahkan, tidak sedikit yang akhirnya memilih batal buang air karena tidak tahan mengantri. Sepertinya untuk mesjid yang sudah menjadi salah satu objek wisata ini memang diperlukan penambahan area toilet. Sehingga, kejadian ini tidak perlu berulang.

Meskipun demikian, Mesjid ini tetap merupakan bangunan unik yang fenomenal. Semoga keunikannya mampu memperkaya upaya dakwah di lingkungan Kota Baru Parahyangan. Aamiin.

#ODOPfor99days
#day60


Sabtu, 26 Maret 2016

Belajar Sains di Puspa Iptek

Puspa Iptek Sun-Dial adalah singkatan dari Pusat Peraga Ilmu Pengetahun dan Teknologi. Sedangkan Sun-Dial berarti Jam Matahari, karena di tempat ini terdapat jam matahari terbesar di Indonesia dan telah memecahkan rekor MURI. Bentuk jam matahari tersebut sangat unik, dengan panjang jarum sepanjang 50 meter dan tinggi mencapai 15 meter dari permukaan tanah.

Jam matahari merupakan alat pengukur waktu yang digunakan sebelum orang menemukan jam modern seperti yang ada saat ini. Jam matahari menggunakan bayangan yang dihasilkan oleh matahari sebagai penentu waktu. Oleh karena itu, waktu yang dapat ditunjukkan oleh jam matahari berkisar antara pukul 08.00 pagi hingga pukul 04.00 sore. Itupun bisa terlihat jika cuaca cerah.

Pada kunjungan Rumbel Playdate Anak Usia Dini IIP Bandung kemarin, cuaca sedang mendung. Sehingga tidak bisa melihat posisi jam matahari dengan baik. Namun demikian ada banyak wahana  sains yang lain yang tidak kalah mengasyikkan. Semuanya ada 180 wahana sains yang bersifat interaktif, sehingga pengunjung dapat mencoba sendiri agar bisa merasakan dan menemukan sensai sains sendiri.

Salah satu wahana favorit bagi anak-anak adalah meja buntung. Wahana ini menggunakan efek pencerminan untuk menyembunyikan kondisi sebenarnya. Sebuah meja berukuran kira-kira 1m x 1m yang dilubangi atasnya, kemudian dipasang cermin di bawahnya menghadap keluar. Jika seseorang memasukkan kepalanya melalui lubang meja tersebut maka yang terlihat dari luar hanya kepalanya saja, seolah-olah badannya buntung. Ini dikarenakan bagian bawah meja ditutupi cermin. Sehingga pandangan mata kita dikelabui oleh cermin tersebut.

Wahana lain yang disukai Naura saat berkunjung kemarin adalah mesin momentum. Pada mesin ini, diperlihatkan bagaimana perbedaan energi putaran saat kita meregangkan kaki dan saat merapatkan kaki. Pada saat kaki diregangkan, putaran terasa lambat karena energi terbagi. Sedangkan saat kaki dirapatkan, putaran terasa cepat karena energi terpusat.

Mengunjungi Puspa Iptek, kita diajak untuk bersahabat dengan sains. Dan melihat sains sebagai hal biasa yang sering terjadi pada hal-hal kecil di sekitar kita. Sehingga, mampu menumbuhkan minat anak terhadap sains.

#ODOPfor99days
#day58

It's Time For Naura

Alhamdulillah Rabu, 23 Maret yang lalu, kegiatan perdana Rumbel Playdate Anak Usia Dini di IIP Bandung terlaksana dengan baik. Mengambil tempat di Pusspa Iptek, Kota Baru Parahyangan, kegiatan ini diikuti oleh hampir 50 anak usia dini dari Ibu-Ibu anggota IIP Bandung. Kesempatan ini kami gunakan sebagai sarana belajar bagi Naura, anak ketiga kami.

Sebagai anak ketiga, selama ini kegiatan outing yang dijalani Naura selalu mengikuti dan berbarengan dengan kegiatan kakak-kakaknya. Naura cenderung diposisikan sebagai "follower", dan cenderung tidak memiliki sarana mengeksplorasi rasa ingin tahunya secara pribadi. Maka, pada kesempatan playdate ini, kami memberikan ruang khusus untuk Naura memiliki kegiatannya sendiri. Sengaja sejak awal mendaftarkan diri, hanya Naura yang kami daftarkan. Walau Ira pun sebenarnya ingin sekali mengikuti kegiatan itu, namun kami berusaha memberikan pengertian padanya bahwa kali ini adalah saat buat Naura.

Alhamdulillah dalam kesempatan playdate tersebut, Naura yang biasanya cenderung tergantung pada kakak-kakaknya dapat memperlihatkan kemandirian dalam mengeksplorasi lingkungannya. Apalagi ada beberapa anak yang sudah dikenal Naura sebelumnya juga ikut dalam playdate kali ini. Sehingga, dia tidak merasa asing dan terlihat menikmati acara playdate. Bahkan, Naura berhasil mengenal beberapa teman baru.

Padatnya pengunjung Pusspa Iptek hari itu cukup membuat kegiatan palyadate agak tidak nyaman. Namun, Naura tetap menikmati kebebasannya bereksplorasi tanpa bayang-bayang kakak-kakaknya. Dia terlihat lincah dan aktif mencoba berbagai wahana sains yang ada. Hingga menjelang dzuhur, kami berada di Pusspa Iptek untuk selanjutnya istirahat dzuhur dan makan siang di Mesjid al-Irsyad sebelum pulang kembali ke Bandung.

#ODOPfor99days
#day57

ASI Eksklusif

Air Susu Ibu (ASI) adalah yang terbaik untuk bayi kita. Setiap spesies yang menyusui sudah dibekali air susu yang diciptakan khusus untuk spesiesnya. Air susu lumba-lumba diciptakan dengan kandungan lemak yang lebih tinggi dibandingkan air susu spesies lainnya. Karena dibutuhkan untuk memberikan kehangatan pada bayi lumba-lumba yang hidup di dalam air.

Itulah sedikit kutipan dari paparan Mba Monik, seorang konselor ASI yang sangat getol mengkampanyekan ASI dalam berbagai kesempatan. Dengan berbagai keterbatasan beliau, ilmu yang beliau suguhkan selalu dibuat fresh agar tidak basi. Menyimak penjelasan demi penjelasan tersebut, membuat saya bertekad penuh agar bisa sukses ASI Eksklusif untuk anak keempat. Setelah pengalaman gagal dengan tiga anak sebelumnya karena berbagai faktor.

Salah satu upaya yang saya lakukan adalah sounding kepada suami. Agar beliau turut mendukung penuh harapan tersebut. Sebagai orang terdekat pertama di rumah, dukungan suami sangat berarti bagi kesuksesan ASI Eksklusif. Selama ini, dukungan beliau dalam proses ngASI sangat besar. Namun, pengaruh lingkungan sering menyebabkan saya gagal di tengah jalan. Semoga niat kuat hari ini dapat membuat saya kuat menghadapi berbagai tantangan. Aamiin.

#ODOPfor99days
#day56

List 33 Hari Pertama di ODOP for 99 days

Berikut daftar tulisan selama 33 hari pertama
  1. Cerita tentang Bani yang terinspirasi oleh novel Negeri 5 Menara, hingga membuatnya belajar menyusun peta hidup, ingin mondok, dan bercita-cita sekolah di Luar Negeri. 
  2. Cerita tentang Ira yang kini memiliki dua orang sahabat. Mereka adalah Ilma dan Aina. Ketiganya belajar bersama di RTA Nur Madinah. 
  3. Cerita tentang Naura yang kesepian di rumah dan berinisiatif membuat "Sekolah Naura"
  4. Pengalaman pertama menggunakan clodi untuk baby Ardi. 
  5. Pengalaman menulis di minggu pertama ODOP. 
  6. Tugas menuliskan mastermind di IIP Bandung. 
  7. Kangen Bani yang dituangkan dalam tulisan tentang Bani. 
  8. Kecenderungan cemburu saat adik baru lahir. 
  9. Terinspirasi dari tulisan ayah Bendri untuk membiasakan anak bangun pagi
  10. Tulisan lama yang dipublikasikan ulang tentang komunikasi empatik.
  11. Tentang buku kumpulan cerpen Ira sebagai portofolio kegiatan Ira. 
  12. Menjawab banyak pertanyaan tentang bagaimana menstimulasi anak gemar membaca
  13. Lanjutan stimulasi membaca dan menulis. 
  14. Masih melanjutkan stimulasi membaca dan menulis
  15. Masih melanjutkan 
  16. Hakikat Pendidikan Anak Usia Dini.
  17. Menanamkan disiplin pada anak berdasarkan kajian hadits. 
  18. Catatan tentang belajar bertanya
  19. Perkembangan bahasa anak di tahun-tahun pertama. 
  20. Teori kepribadian dalam terminologi Al-Qur'an dan al-Hadits. 
  21. Peringatan untuk para orangtua agar tidak menjadi orangtua yang durhaka
  22. Jangan dikotomikan istilah bermain dan belajar untuk anak. 
  23. Peran muslimah dalam menyelamatkan generasi. 
  24. Rumah Qur'an, tempat Bani belajar hari ini.
  25. Materi wirausaha untuk Ira. 
  26. Stimulasi belajar membaca al-Qur'an untuk anak. 
  27. Program One Day One Ayat (ODOA) di Pemudi Persis. 
  28. Materi belajar matematika di IXL. 
  29. Kisah-kisah petualangan Bani di Rumah Qur'an. 
  30. Naura belajar menulis surat untuk Farid.
  31. Resume materi pengajian Persistri Cibeunying Kidul. 
  32. Target membaca al-Qur'an satu halaman per hari untuk Naura. 
  33. Peran besar suami di rumah tangga. 
#ODOPfor99days
#day59

Jumat, 18 Maret 2016

Antara Ayah dan Ummi

Seperti layaknya pasangan yang akan memiliki anak pertama, saat kehamilan Bani kami pun sudah merencanakan panggilan untuk kami berdua. Waktu itu saya yang sejak lama ingin dipanggil Ummi jika menjadi seorang ibu sudah mengungkapkan duluan keinginan itu. Namun, mendengar keinginan saya, suami tampak merenung. Katanya kalau ummi nanti pasangannya Abi dan dia merasa tidak pas dengan panggilan itu.

Obrolan itu pun akhirnya lewat begitu saja berganti topik lain dan tak pernah didiskusikan kembali. Waktu itu saya berpikir suami setuju kalau panggilan untuk saya adalah ummi. Maka, sejak bayi dalam kandungan saya sudah biasa mengajaknya bicara dan membiasakan panggilan Ummi.

Mendekati waktu melahirkan, suami mulai mengatakan bahwa dia lebih suka dipanggil ayah. Saat itu saya tidak masalah dengan keinginan suami. Saya pikir tinggal menyesuaikan diri. Kalau Ayah pasangannya adalah Ibu atau Bunda. Namun, suami malah mengatakan, jika ingin dipanggil Ummi ya sudah Ummi saja tak perlu diganti. Saya bilang nanti ga matching dong kalau Ayah dan Ummi. Tapi apa tanggapannya? Beliau malah mengatakan, kita akan buat trend baru, jangan jadi follower jadilah trendsetter.

Saya sempat merasa geli dengan keputusan itu. Saya pikir nanti juga akan berubah jika anak sudah lahir. Apa kata orang nanti jika panggilannya Ayah-Ummi. Namun, setelah sang bayi lahir pun keputusan suami tetap. Dia mengatakan, tak perlu terpengaruh kata orang, yang penting apa yang kita lakukan tidak melanggar aturan

Itulah kisah asal mula panggilan Ayah-Ummi di rumah. Memang agak janggal ya...? Tapi setelah empat anak, kami ternyata semakin menikmati panggilan itu. Yang terpenting bukan panggilannya, namun bagaimana kita menjalani peran itu sebaik-baiknya.

#ODOPfor99days
#day55

Kamis, 17 Maret 2016

Ayah Jail

Sumber Foto: Koleksi Pribadi
Beberapa waktu lalu banyak berseliweran di medsos, quote yang mengatakan bahwa anak yang banyak berinteraksi dengan ayahnya cenderung memiliki IQ yang lebih tinggi. Saya jadi teringat suami saya yang bisa dikategorikan ayah yang dekat dengan anak-anaknya. Kedekatan anak-anak dengan ayahnya bahkan tidak jarang memunculkan kecemburuan pada saya...*eh..hee...

Ayah di rumah kami banyak sekali perannya. Mulai dari urusan genteng bocor hingga dapur kotor, mulai dari urusan benerin listrik hingga bersihin clodi. Beliau memang termasuk kategori  tidak memilah-milah mana pekerjaan istri dan mana pekerjaan suami. Termasuk urusan mengurus anak-anak sejak mereka bayi. Mengganti popok, memandikan, menidurkan bayi, hingga mencuci popok kotor biasa dikerjakannya. Cuma menyusui saja sepertinya yang tidak bisa dilakukan si ayah. Pun saat anak-anak beranjak besar. Memandikan, menyuapi, menemani mereka bermain merupakan bagian penting dari peran si ayah di rumah kami. Sehingga tentu saja, kedekatan beliau dengan anak-anak dengan sendirinya terjalin sangat erat.

Hal lain yang unik dan menjamin kedekatan si ayah dan anak-anak adalah sifat ayah yang jail. Sebelum menikah, konon katanya yang suka menjadi korban kejailannya adalah para keponakan. Hingga salah satu keponakannya menjuluki si ayah sebagai "mang terjail sedunia". Salah satu perilaku jailnya adalah saat membangunkan mereka. Tak pernah si ayah membangunkan mereka dengan "benar". Setiap akan membangunkan, dia sengaja mengikatkan dulu benda-benda ke baju keponakannya. Benda-benda itu biasanya sepatu, guling, bahkan keranjang cucian. Yang terjadi saat yang bersangkutan bangun, terjadi kehebohan karena barang-barang itu ikut tergusur oleh badannya.

"Jail"nya si ayah ternyata terus berlanjut hingga punya anak. Kini korban kejailannya adalah anak-anaknya sendiri. Yang paling sering menjadi korban tentu saja Bani, anak pertama kami. Tidak jarang Bani bangun tidur dengan perut atau pantat berlukiskan spidol hasil karya si Ayah Jail. Dan itu hanyalah salah satu contoh dari sekian banyaaak kejailan yang suka dilakukan si ayah. Salah satu contoh lainnya, jika anak-anak sedang di kamar mandi. Ayah dengan sengaja menyandarkan sapu, tongkat atau apapun ke pintu kamar mandi. Alhasil, terjadi kehebohan saat pintu kamar mandi dibuka oleh anak-anak. Masih banyak kisah kejailan si Ayah yang lain. Jika ditulis semuanya sepertinya bisa menjadi sebuah novel jenaka..haha...

Lantas bagaimana sikap anak-anak? Kejailan ayah merupakan salah satu penghangat hubungan kami di rumah. Anak-anak menyadari sifat jail sang ayah dan mereka sangat menyukainya. Karena jailnya ayah mengundang banyak tawa di rumah kami. Suasana santai dan penuh humor menjadi salah satu bagian dari karakter rumah kami. Mengimbangi karakter umminya yang serius dan cenderung kaku.

Namun, sifat jail ayah tidak kemudian membuat beliau kehilangan wibawanya di depan anak-anak. Beliau masih dapat menempatkan kapan harus berperan sebagai ayah yang tegas, kapan sebagai ayah yang lembut, dan kapan sebagai ayah yang jail. Yang pasti dengan sifat ini kedekatan anak-anak dengan ayahnya sungguh membuat iri sang Ibu...hee..

#ODOPfor99days
#day54